<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>Senthong</title>
	<atom:link href="http://senthong.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://senthong.wordpress.com</link>
	<description>Just another WordPress.com weblog</description>
	<lastBuildDate>Fri, 27 Aug 2010 04:49:03 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
<cloud domain='senthong.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://s2.wp.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title>Senthong</title>
		<link>http://senthong.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://senthong.wordpress.com/osd.xml" title="Senthong" />
	<atom:link rel='hub' href='http://senthong.wordpress.com/?pushpress=hub'/>
		<item>
		<title>CATATAN RINGAN DARI SINGAPORE</title>
		<link>http://senthong.wordpress.com/2010/08/27/catatan-ringan-dari-singapore/</link>
		<comments>http://senthong.wordpress.com/2010/08/27/catatan-ringan-dari-singapore/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 27 Aug 2010 04:49:03 +0000</pubDate>
		<dc:creator>senthong</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://senthong.wordpress.com/?p=104</guid>
		<description><![CDATA[Pemandangan reklamasi pantai secara besar-besaran tampak dari atas pesawat yang membawa kita memasuki negara Singapura dan ketika pertama mendarat di Changi International airport, suguhan perkembangan teknologi dalam rangcang bangun sudah terasa, berikutnya adalah perkembangan teknologi transportasi dengan MRT dan local link transportation di lingkungan Changi airport sendiri. Sepanjang menuju hotel suguhan berlanjut dengan bangunan-bangunan tinggi [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=senthong.wordpress.com&amp;blog=9177900&amp;post=104&amp;subd=senthong&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-family:Tahoma;" lang="ES-AR">Pemandangan reklamasi pantai secara besar-besaran tampak dari atas pesawat yang membawa kita memasuki negara Singapura dan ketika pertama mendarat di Changi International airport, suguhan perkembangan teknologi dalam rangcang bangun sudah terasa, berikutnya adalah perkembangan teknologi transportasi dengan MRT dan local link transportation di lingkungan Changi airport sendiri. Sepanjang menuju hotel suguhan berlanjut dengan bangunan-bangunan tinggi monumental karya arsitek-arsitek terkenal, S.O.M ( Changi MRT Station ), Moshe Shafdi ( Casinos @ Marina Bay and Sentosa ), Kenzo Tange ( UOB Plaza dan indoor stadium ), Paul Rudolph ( Concourse building ), I.M. Pei ( gateway building ), Ken Young ( National Library ), Norman Foster (Supreme Court dan Expo MRT ), rasanya tidak salah kalau Singapura diibaratkan ‘Jendela Dunia’ bagi perkembangan Arsitektur.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span style="font-family:Tahoma;" lang="ES-AR"><a href="http://senthong.files.wordpress.com/2010/08/hr-sng-04.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-105" title="hr-sng-04" src="http://senthong.files.wordpress.com/2010/08/hr-sng-04.jpg?w=300&#038;h=177" alt="sumber:nus" width="300" height="177" /></a></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span style="font-family:Tahoma;">Master Plan dan Pembangunan.</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-family:Tahoma;">Emang hebat negara ini, dengan wilayah tak lebih besar dari kota Semarang dan tidak memiliki kekayaan alam yang dapat diekploitasi tetapi berhasil menjadi negara kecil, modern dan kaya. Mungkin posisi negara ini yang menjadi pusat jalur perdagangan dunia dan mereka berhasil memanfaatkan posisi tersebut untuk mendapatkan penambahan devisa negara. Keseriusan dan pandangan kedepan untuk memajukan negara ini dari pemerintahnya harus diakui dengan acungan jempol. Keterpurukan yang mendera akibat peperangan tahun 1950, memporak-porandakan negara ini, kemudian dengan cepat bangkit dengan membangun rumah susun-rumah susun untuk rakyatnya, membangun sarana transportasi, berupa pembangunan jalan dan jalur MRT dan menggagas masterplan kota Singapura kedepan di  tahun 1963. Keseriusan membangun negaranya ditunjukkan dengan belum ada 10 tahun, rancangan masterplan kota telah dirubah kembali ( 1971) dengan beberapa penyesuaian hasil review terhadap masterplan yang telah ada. Pada tahun 1991 dibuat kembali masterplan Singapura dengan thema ‘<em>A Tropical City of Excellent</em>” dan benar-benar diterapkan dan dibangun di tahun-tahun berikutnya dengan menghadirka arsitek-arsitek kelas dunia. Tahun 2001 direncanakan kembali masterplan Singapura dengan mengusung thema <em>‘Garden City in the Tropic”.</em> Dengan thema ini Singapura dibangun, yang paling terlihat adalah pembangunan kawasan-kawasan baru ( bahkan banyak yang memanfaatkan reklamasi pantai dengan pasir dari pulau-pulau di Indonesia ) dan bangunan-bangunan high rise baru dengan thema yang sesuai, seperti pembangunan jalur-jalur MRT baru yang menghubungkan seluruh kawasan yang ada, Reflection building ( Daniel Libeskind) di Keppel Bay, Scott Tower ( OMA), EDITT Tower ( Ken Young ), pembangunan Bridging Ridges sepanjang 9 km yang menghubungkan beberapa kawasan, sebuah obyek wisata baru yang mengasikkan. Hebatnya lagi, Masterplan Singapura akan kembali direview dengan thema “<em>City in a Garden”</em> pada tahun 2020 dan  khabarnya WOHA sudah mengusulkan masterplan tahun 2050.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span style="font-size:14pt;font-family:Tahoma;"><a href="http://senthong.files.wordpress.com/2010/08/mp-sng-04.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-106" title="mp-sng-04" src="http://senthong.files.wordpress.com/2010/08/mp-sng-04.jpg?w=300&#038;h=180" alt="sumber:nus" width="300" height="180" /></a>Sumber Daya Manusia.</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-family:Tahoma;">Untuk melaksanakan pembangunan di Singapura, banyak tenaga asing yang didatangkan dari semua penjuru dunia. Orang-orang yang mempunyai kompetensi tinggi akan dihargai dan diperhatikan, tentu saja berharap akan ada alih teknologi disana. Ketika nantinya tenaga kerja dalam negeri sudah dapat melaksanakannya, lambat laun ketergantungan dengan tenaga asing akan dikurangi, pada level bawah ketergantungan ini dapat disaksikan pada iring-iringan tenaga kerja yang melintas diperbatasan dengan negara lain pada saat pagi dan sore hari, tak ubahnya dengan banyaknya tenaga kerja yang memasuki kota Semarang dari arah Purwodadi dan Demak di pagi dan sore hari. Konon khabarnya jumlah masyarakat Singapura sendiri, secara ekonomis tidak mampu untuk memutarkan roda perekonomian negara ini, sehingga beberapa tahun kedepan Singapura mencoba mendongkrak jumlah penduduknya dengan berbegai cara.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span style="font-size:14pt;font-family:Tahoma;"><a href="http://senthong.files.wordpress.com/2010/08/hr-sng-05.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-107" title="hr-sng-05" src="http://senthong.files.wordpress.com/2010/08/hr-sng-05.jpg?w=300&#038;h=192" alt="sumber:nus" width="300" height="192" /></a></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span style="font-size:14pt;font-family:Tahoma;">Arsitek Indonesia di Singapore.</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-family:Tahoma;">Menjadi kebanggaan tersendiri ketika bertemu dengan rekan-rekan arsitek Indonesia yang telah berhasil bekerja di Singapore dan menembus dominasi arsitek asing ataupun local dengan menempati posisi-posisi strategis di kantornya masing-masing. Ikatan Arsitek Indonesia cabang Singapore juga telah terbentuk. Keberhasilan, kebanggaan dan gagasan disain yang telah mereka sumbangkan untuk turut mewarnai disain bangunan yang telah berdiri di Singapore menjadi bagian cerita yang amat berkesan dan cukup membanggakan. Yang menjadi catatan dan bahan renungan untuk kita ambil tindakan dan berbuat lebih adalah ‘KESETARAAN’, kemampuan dapat diadu tetapi kesetaraan ternyata tidak kita dapatkan. Ibaratnya arsitek kita ber’kasta sudra’ dalam tataran klasifikasi arsitek di Singapore, apa yang telah diberikan tidak sebanding dengan apa yang didapatkan jika ukurannya sesama arsitek professional local ataupun asing diluar Indonesia.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-family:Tahoma;">Menjadi tugas kita bersama, khususnya pengurus IAI di Pusat dan Daerah, kapan sertifikat professional IAI benar-benar setara dan diakui dalam tingkat dunia, minimal Asia atau lebih kecil dulu Asia Tenggara atau kita masih berkutat dengan kesetaraan arsitek nasional di pusat dan daerah. Ayo Semangat !!!</span></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/senthong.wordpress.com/104/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/senthong.wordpress.com/104/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/senthong.wordpress.com/104/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/senthong.wordpress.com/104/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/senthong.wordpress.com/104/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/senthong.wordpress.com/104/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/senthong.wordpress.com/104/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/senthong.wordpress.com/104/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/senthong.wordpress.com/104/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/senthong.wordpress.com/104/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/senthong.wordpress.com/104/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/senthong.wordpress.com/104/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/senthong.wordpress.com/104/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/senthong.wordpress.com/104/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=senthong.wordpress.com&amp;blog=9177900&amp;post=104&amp;subd=senthong&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://senthong.wordpress.com/2010/08/27/catatan-ringan-dari-singapore/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/f7628bd0e393df78ca5aea3482042ac7?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">senthong</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://senthong.files.wordpress.com/2010/08/hr-sng-04.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">hr-sng-04</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://senthong.files.wordpress.com/2010/08/mp-sng-04.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">mp-sng-04</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://senthong.files.wordpress.com/2010/08/hr-sng-05.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">hr-sng-05</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>catatan saku dari korea (02)</title>
		<link>http://senthong.wordpress.com/2010/03/02/catatan-saku-dari-korea-02/</link>
		<comments>http://senthong.wordpress.com/2010/03/02/catatan-saku-dari-korea-02/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 02 Mar 2010 09:26:26 +0000</pubDate>
		<dc:creator>senthong</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://senthong.wordpress.com/2010/03/02/catatan-saku-dari-korea-02/</guid>
		<description><![CDATA[”Wajah kota” itu, salah satunya bernama bandara gerbang untuk memasuki suatu negara ataupun kota, apabila kita menggunakan transportasi udara adalah bangunan bandara, baik itu berskala internasional ataupun nasional. Image yang dihadirkan oleh bangunan ini ketika kita mendarat dan menyaksikan bangunan bandara ini dari atas pesawat, ternyata begitu kuat memberikan gambaran ataupun cerminan bagi pendatang tentang [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=senthong.wordpress.com&amp;blog=9177900&amp;post=103&amp;subd=senthong&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoNormal"><strong>”Wajah kota” itu, salah satunya bernama bandara</strong></p>
<p class="MsoNormal">gerbang untuk memasuki suatu negara ataupun kota, apabila kita menggunakan transportasi udara adalah bangunan bandara, baik itu berskala internasional ataupun nasional. Image yang dihadirkan oleh bangunan ini ketika kita mendarat dan menyaksikan bangunan bandara ini dari atas pesawat, ternyata begitu kuat memberikan gambaran ataupun cerminan bagi pendatang tentang bagaimana image ibukota negara ataupun kota yang akan kita kunjungi. Bentuk masa bangunan, teknologi konstruksi yang dihadirkan, penggunaan material, pemilihan warna dan detail bangunan yang dihadirkan akan mempengaruhi pikiran kita tentang kondisi negara ataupun kota tersebut, dari aspek fisik, ekonomi, sosial budaya dan regulasi yang berada disana.</p>
<p class="MsoNormal"><a href="http://senthong.files.wordpress.com/2010/03/incheon-01.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-100" title="incheon-01" src="http://senthong.files.wordpress.com/2010/03/incheon-01.jpg?w=224&#038;h=299" alt="" width="224" height="299" /></a></p>
<p class="MsoNormal">Apa yang dihadirkan oleh foto-foto dari bandara internasional <em>incheon</em> di seoul ini? Pertama tentunya kesan modern dan besarannya, hadir dengan kekiniannya yang ditunjukkan dari bentuk masa dan disainnya, konstruksinya, material pengisinya. Kedua kesan teratur dan sistimatis yang ditunjukkan dengan suasana interior bangunan dan penggunaan teknologi komputer untuk menunjang sistim informasi dan transportasinya. Ketiga kesan bersih dan keempat adalah kesan effektif dan effisien yang ditunjukkan dengan semua aktifitas dapat dilakukan dengan cepat dan link/hubungan zona ruang amat terjaga.</p>
<p class="MsoNormal"><a href="http://senthong.files.wordpress.com/2010/03/incheon-02.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-101" title="INCHEON-02" src="http://senthong.files.wordpress.com/2010/03/incheon-02.jpg?w=150&#038;h=300" alt="" width="150" height="300" /></a></p>
<p class="MsoNormal">Demikian juga kesan yang dihadirkan oleh bandara <em>gimhae</em> di busan, dengan skala pelayanan yang lebih kecil dari <em>incheon</em> tetapi mempunyai kesamaaN kesan yang dihadirkan bagi penggunanya.</p>
<p class="MsoNormal">Kesan-kesan yang dihadirkan dari bandara ini ternyata tidak jauh menyimpang dengan gambaran kondisi ibukota negara ataupun kota dimana bandara-bandara itu berada.</p>
<p class="MsoNormal"><a href="http://senthong.files.wordpress.com/2010/03/incheon-03.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-102" title="incheon-03" src="http://senthong.files.wordpress.com/2010/03/incheon-03.jpg?w=150&#038;h=300" alt="" width="150" height="300" /></a></p>
<p class="MsoNormal">Gambaran kondisi kota seoul dan Busan ternyata memang benar seperti yang tergambarkan dari bentuk dan disain bandaranya yaitu sebagai kota-kota yang modern, teratur dan terencana secara sistematis, bersih serta serba mengutamakan pelayanan yang efektif dan efisien.</p>
<p class="MsoNormal">Apabila kita mencermati kondisi bandara internasional kota kita ”Ahmad Yani” di Semarang, saya akan mendukung rencana pemindahan  letak bandara tersebut pada tempat yang menyebabkan kota semarang akan dapat berkembang menjadi kota metropolitan dengan gedung-gedung tinggi menjulang dan mengganti bentuk bangunan yang lebih cocok dengan karakter kota semarang kedepan, karena saya yakin bahwa ”wajah kota” itu, salah satunya bernama bandara.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/senthong.wordpress.com/103/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/senthong.wordpress.com/103/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/senthong.wordpress.com/103/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/senthong.wordpress.com/103/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/senthong.wordpress.com/103/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/senthong.wordpress.com/103/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/senthong.wordpress.com/103/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/senthong.wordpress.com/103/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/senthong.wordpress.com/103/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/senthong.wordpress.com/103/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/senthong.wordpress.com/103/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/senthong.wordpress.com/103/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/senthong.wordpress.com/103/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/senthong.wordpress.com/103/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=senthong.wordpress.com&amp;blog=9177900&amp;post=103&amp;subd=senthong&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://senthong.wordpress.com/2010/03/02/catatan-saku-dari-korea-02/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/f7628bd0e393df78ca5aea3482042ac7?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">senthong</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://senthong.files.wordpress.com/2010/03/incheon-01.jpg?w=224" medium="image">
			<media:title type="html">incheon-01</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://senthong.files.wordpress.com/2010/03/incheon-02.jpg?w=150" medium="image">
			<media:title type="html">INCHEON-02</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://senthong.files.wordpress.com/2010/03/incheon-03.jpg?w=150" medium="image">
			<media:title type="html">incheon-03</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>catatan saku dari korea (01)</title>
		<link>http://senthong.wordpress.com/2010/02/24/catatan-saku-dari-korea-01/</link>
		<comments>http://senthong.wordpress.com/2010/02/24/catatan-saku-dari-korea-01/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 24 Feb 2010 10:26:29 +0000</pubDate>
		<dc:creator>senthong</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://senthong.wordpress.com/?p=93</guid>
		<description><![CDATA[&#8220;pasar kobong&#8221;nya kota Busan Beberapa waktu yang lalu, saya berkesempatan mengunjungi korea, dalam rangka tugas kedinasan untuk bertemu dengan architecture department, engineering faculty of Pukyong university dan rekan-rekan arsitek di Busan. Banyak catatan yang menarik tentang perkembangan arsitektur dan bangunan-bangunan disana. Permasalahan umum yang dirasakan mereka adalah maraknya arsitek asing, terutama dari amerika dan eropa [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=senthong.wordpress.com&amp;blog=9177900&amp;post=93&amp;subd=senthong&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong>&#8220;pasar kobong&#8221;nya kota Busan<br />
</strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">Beberapa waktu yang lalu, saya berkesempatan mengunjungi korea, dalam rangka tugas kedinasan untuk bertemu dengan architecture department, engineering faculty of Pukyong university dan rekan-rekan arsitek di Busan. Banyak catatan yang menarik tentang perkembangan arsitektur dan bangunan-bangunan disana. Permasalahan umum yang dirasakan mereka adalah maraknya arsitek asing, terutama dari amerika dan eropa yang berkarya di Korea, sebagaimana diceritakan oleh para arsitek disana. Mengamati karya arsitektur, pada sesi ini saya akan mengulas tentang suatu kawasan pasar ikan yang menjadi perhatian utama saya ( kota Busan berada di tepi pantai ), yang dalam benak saya kondisinya seperti “pasar kobong” di Semarang, “<em>Jagalchi Market</em>” mereka menyebutnya. Suatu kawasan dengan <em>icon s</em>ebuah bangunan pipih beratap lengkung dan berarsitektur modern.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;"><a href="http://senthong.files.wordpress.com/2010/02/img_3720.jpg"><img class="aligncenter size-medium wp-image-94" title="IMG_3720" src="http://senthong.files.wordpress.com/2010/02/img_3720.jpg?w=300&#038;h=200" alt="" width="300" height="200" /></a><br />
</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;"><!--[if gte vml 1]&gt;                    &lt;![endif]--><!--[if !vml]--><!--[endif]--></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;"><span style="font-size:8pt;font-family:Tahoma;" lang="SV">Gambar -01</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;"><span style="font-size:8pt;font-family:Tahoma;" lang="SV">Kawasan <em>jagalchi market</em> di tepi pelabuhan Busan</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;"><span style="font-size:8pt;font-family:Tahoma;" lang="SV"><a href="http://senthong.files.wordpress.com/2010/02/jagalchi-01.jpg"><img class="aligncenter size-medium wp-image-95" title="jagalchi-01" src="http://senthong.files.wordpress.com/2010/02/jagalchi-01.jpg?w=300&#038;h=225" alt="" width="300" height="225" /></a><br />
</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;" lang="SV"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;"><!--[if gte vml 1]&gt;  &lt;![endif]--><!--[if !vml]--><!--[endif]--></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;"><span style="font-size:8pt;font-family:Tahoma;">Gambar-02</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;"><span style="font-size:8pt;font-family:Tahoma;">Gedung utama <em>jagalchi market</em> yang menjadi <em>icon</em> kawasan</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">Sebagai kawasan pasar ikan, kesan jorok dan bau sama sekali tidak terlihat disana bahkan lalatpun tidak banyak ditemukan, semuanya serba teratur dan bersih. Aktifitas terpadu dilakukan pada kawasan itu, dari sejak kedatangan ikan, ditampung, dijajakan, dibersihkan perutannya, packing, pengawetan, pengiriman dan disajikan dalam bentuk hidangan dilakukan di kawasan itu. Dari kacamata seorang arsitek, saya menganggap suatu penyelesaian disain yang menarik dan berhasil dalam menyelesaikan traffic ikan, penjual/pedagang dan pengunjung yang memadati kawasan itu, dikaitkan dengan disain struktur dan penyelesaian jaringan mekanikal elektrikal yang prima.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">Konsep disain ruang luar menggunakan jalur pedestrian yang cukup lebar sehingga memberikan keleluasaan gerak pengunjung yang dipisahkan dengan area parkir dan jalan lingkungan. Pola tata hijau kawasan diselesaikan dengan sederhana sesuai dengan kebutuhan. Lantai dasar dan ruang luar difungsikan sebagai area penjualan dan pemrosesan ikan ( pembersihan, pengawetan dan pengkemasan ), lantai diatasnya digunakan untuk aktifitas pengolahan, perkantoran dan perbankan sedangkan lantai dua teratas digunakan sebagai restorant yang menyajikan menu utama ikan-ikan segar yang didasarkan dilantai bawah.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;"><a href="http://senthong.files.wordpress.com/2010/02/img_3708.jpg"><img class="aligncenter size-medium wp-image-96" title="IMG_3708" src="http://senthong.files.wordpress.com/2010/02/img_3708.jpg?w=300&#038;h=200" alt="" width="300" height="200" /></a><br />
</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;"><!--[if gte vml 1]&gt;  &lt;![endif]--><!--[if !vml]--><!--[endif]--></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;"><span style="font-size:8pt;font-family:Tahoma;" lang="SV">Gambar-03</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;"><span style="font-size:8pt;font-family:Tahoma;" lang="SV">Area dasaran di luar gedung tampil bersih dan tidak bau.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;"><span style="font-size:8pt;font-family:Tahoma;" lang="SV"><a href="http://senthong.files.wordpress.com/2010/02/img_3709.jpg"><img class="aligncenter size-medium wp-image-97" title="IMG_3709" src="http://senthong.files.wordpress.com/2010/02/img_3709.jpg?w=300&#038;h=200" alt="" width="300" height="200" /></a><br />
</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;"><span style="font-size:8pt;font-family:Tahoma;" lang="SV"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;"><!--[if gte vml 1]&gt;  &lt;![endif]--><!--[if !vml]--><!--[endif]--></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;"><span style="font-size:8pt;font-family:Tahoma;">Gambar-04</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;"><span style="font-size:8pt;font-family:Tahoma;">Los dasaran dalam gedung bersih dan nyaman dengan sistim pendingin udara</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;"><span style="font-size:8pt;font-family:Tahoma;"><a href="http://senthong.files.wordpress.com/2010/02/img_3715.jpg"><img class="aligncenter size-medium wp-image-98" title="IMG_3715" src="http://senthong.files.wordpress.com/2010/02/img_3715.jpg?w=300&#038;h=200" alt="" width="300" height="200" /></a><br />
</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;"><span style="font-size:8pt;font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;"><!--[if gte vml 1]&gt;  &lt;![endif]--><!--[if !vml]--><!--[endif]--></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;"><span style="font-size:8pt;font-family:Tahoma;">Gambar-05</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;"><span style="font-size:8pt;font-family:Tahoma;">Suasana restoran siap saji di dua lantai teratas gedung <em>jagalchi</em> yang eksklusif</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;"><span style="font-size:8pt;font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">Kunci utama keberhasilan kawasan dan bangunan didalamnya terbebas dari kesan jorok dan bau adalah penyediaan jaringan air bersih yang melimpah. Penggelontoran dan pembersihan lantai dilakukan setiap waktu dengan debit air yang cukup besar dan didukung dengan system drainase kawasan yang memadahi. Penyediaan air yang selalu mengalir untuk konsumsi kebutuhan air di aquarium-aquarium ikan segar di setiap kios-kios dasaran tersedia sepanjang waktu. Tersedianya instalasi pengolah limbah yang cukup canggih menyempurnakan konsep ini. Khusus dalam bangunan, tersedianya jaringan pengkondisian udara berhasil menghadirkan suhu yang nyaman untuk memilih dagangan dan melakukan transaksi .</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">Konstruksi bangunan menggunakan system beton bertulang yang dipadukan dengan rangka baja. Dinding eksterior bangunan ditutup dengan menggunakan <em>cladding alumunium</em> dan kaca sebagai fungsi <em>curtainwall.</em>Secara keseluruhan dari disain kawasan dan bangunan Jagalchi Market ini tidak ada yang aneh, dalam arti kita sebagai arsitek sudah paham dan sering menerapkannya pada disain kita. Dengan demikian mestinya kita juga mampu untuk memberikan yang terbaik dari ilmu yang kita miliki untuk mempercantik dan memberikan <em>icon</em> bagi kawasan dan kota kita.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;"><br />
</span></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/senthong.wordpress.com/93/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/senthong.wordpress.com/93/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/senthong.wordpress.com/93/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/senthong.wordpress.com/93/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/senthong.wordpress.com/93/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/senthong.wordpress.com/93/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/senthong.wordpress.com/93/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/senthong.wordpress.com/93/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/senthong.wordpress.com/93/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/senthong.wordpress.com/93/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/senthong.wordpress.com/93/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/senthong.wordpress.com/93/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/senthong.wordpress.com/93/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/senthong.wordpress.com/93/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=senthong.wordpress.com&amp;blog=9177900&amp;post=93&amp;subd=senthong&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://senthong.wordpress.com/2010/02/24/catatan-saku-dari-korea-01/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/f7628bd0e393df78ca5aea3482042ac7?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">senthong</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://senthong.files.wordpress.com/2010/02/img_3720.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">IMG_3720</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://senthong.files.wordpress.com/2010/02/jagalchi-01.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">jagalchi-01</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://senthong.files.wordpress.com/2010/02/img_3708.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">IMG_3708</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://senthong.files.wordpress.com/2010/02/img_3709.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">IMG_3709</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://senthong.files.wordpress.com/2010/02/img_3715.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">IMG_3715</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>pemugaran lawang sewu harus tuntas</title>
		<link>http://senthong.wordpress.com/2009/12/27/pemugaran-lawang-sewu-harus-tuntas/</link>
		<comments>http://senthong.wordpress.com/2009/12/27/pemugaran-lawang-sewu-harus-tuntas/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 27 Dec 2009 03:24:46 +0000</pubDate>
		<dc:creator>senthong</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://senthong.wordpress.com/?p=86</guid>
		<description><![CDATA[Ada perasaan emosional saat ikut menghadiri sosialisasi pemugaran gedung Lawang Sewu. Bagaimana tidak, sejak kecil bertempat tinggal ,bersekolah, berteman dan bermain dengan teman2 disekitar gedung ini. Ada rasa menyesakkan didada , ternyata  perasaan mencintai gedung ini. Memperhatikan aktifitas dan perbaikan gedung Lawang Sewu satu tahun ini, serasa melihat seorang ‘nyonya tua’ yang sedang dirias, ada [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=senthong.wordpress.com&amp;blog=9177900&amp;post=86&amp;subd=senthong&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://senthong.files.wordpress.com/2009/12/lawangsewu-24.jpg"><img class="alignleft size-full wp-image-87" title="lawangsewu-24" src="http://senthong.files.wordpress.com/2009/12/lawangsewu-24.jpg?w=655" alt=""   /></a><a href="http://senthong.files.wordpress.com/2009/12/lawangsewu-07.jpg"><img class="alignleft size-full wp-image-88" title="lawangsewu-07" src="http://senthong.files.wordpress.com/2009/12/lawangsewu-07.jpg?w=655" alt=""   /></a><a href="http://senthong.files.wordpress.com/2009/12/lawangsewu-02.jpg"><img class="alignleft size-full wp-image-89" title="lawangsewu-02" src="http://senthong.files.wordpress.com/2009/12/lawangsewu-02.jpg?w=655" alt=""   /></a></p>
<p>Ada perasaan emosional saat ikut menghadiri sosialisasi pemugaran gedung Lawang Sewu. Bagaimana tidak, sejak kecil bertempat tinggal ,bersekolah, berteman dan bermain dengan teman2 disekitar gedung ini. Ada rasa menyesakkan didada , ternyata  perasaan mencintai gedung ini.<br />
Memperhatikan aktifitas dan perbaikan gedung Lawang Sewu satu tahun ini, serasa melihat seorang ‘nyonya tua’ yang sedang dirias, ada perasaan bahagia karena ada harapan untuk melihat seorang ’nyonya tua’ yang menyisakan kecantikannya, terawat, tidak lusuh dan dekil dimakan usia disamping itu juga ada perasaan iba, mengapa baru sekarang mendapat sedikit perhatian dari orang-orang terdekatnya, setelah sekian tahun dibiarkan terkapar dan menderita.<br />
Melihat gedung Lawang Sewu memang seperti melihat seorang ‘nyonya tua’ yang cantik, semasa mudanya penuh potensi dan sarat pengalaman hidup di kota Semarang. Didirikan di komplek Tugu Muda, gedung megah bergaya art deco, yang digunakan Belanda sebagai kantor pusat kereta api  ( trem ), atau lebih dikenal dengan Nederlandsch Indische Spoorweg Maschaappij ( NIS ). Bangunan karya Arsitek Belanda Prof.Jacob F. Klinkhamer dan B.J Queendag, menurut catatan sejarah dibangun tahun 1903, kemudian diresmikan pada tanggal 1 juli 1907.<br />
Dalam masa penjajahan dan upaya merebut kemerdekaan Indonesia, si ‘nyonya tua’ ini mempunyai andil dan sebagai saksi sejarah dari pertempuran-pertempuran yang pernah dilakukan dan yang terakhir adalah pertempuran lima hari di Semarang.<br />
Dalam catatan resmi setelah Indonesia merdeka, Lawang Sewu dipakai sebagai kantor perkereta apian milik Indonesia, Perusahaan Jawatan Kereta Api (PJKA). Pada tahun 1949 Lawang Sewu digunakan sebagai kantor administrasi oleh KODAM IV DIPONEGORO. Pada tahun 1994 Lawang Sewu disewa oleh PT. Binangun Artha Perkasa (BAP) dan Perumka DAOP IV Semarang dalam perjanjian Memorandum of Understanding. Setelah itu Lawang Sewu kemudian ditempati oleh Departemen Perhubungan selama sekitar 2 tahun. Dan oleh karena Pajak Bumi dan Bangunan yang sangat besar, Lawang Sewu dijual ke pihak swasta, sebelum akhirnya dimiliki oleh PT. Kereta Api Indonesia (KAI) kembali.<br />
Dalam catatan tidak resmi, ternyata ’nyonya tua ini juga merupakan ’ibu asuh’ dari masyarakat dan orang-orang yang mendapatkan nafkah dari keberadaannya, kaum papa dan terakhir anak-anak jalanan yang memanfaatkannya untuk tempat bernaung sementara.<br />
Dengan demikian sudah sepantasnya jika upaya menumbuhkan aktifitas dan pemugaran gedung Lawang Sewu dilakukan oleh PT. KAI, didukung instansi yang pernah diasuhnya juga masyarakat Semarang, karena jika kita tengok sejarah diatas, ternyata si ’nyonya tua’ inilah yang melahirkan PT.KAI, jadi ’ibu” dari PT KAI dan ’ibu asuh’ yang berjasa bagi kota Semarang, KODAM IV Diponegoro, PT. BAP, departemen Perhubungan, sebagian masyarakat dan anak2 jalanan. Tidaklah Etis jika berani menelantarkan ibu dan ibu asuh yang telah berjasa besar mengasuh dan membesarkannya, apalagi jika berani menjual kepada pihak swasta yang akan memanfaatkan potensi dirinya.</p>
<p><span id="more-86"></span><br />
Sebagai bangunan kuno dan bersejarah, gedung ini identik dengan kota Semarang, menjadi tetenger ataupun landmark kawasan sekitarnya. Dan memenuhi kriteria Catanese Snyder (1979) untuk dikonservasi. Pemenuhan criteria tersebut sebagai berikut : 1). Nilai Estetika yang tinggi. Tolok ukur estetika ini dikaitkan dengan nilai estetis dan arsitektonis yang tinggi dalam hal bentuk, struktur, tata ruang, dan ornamennya; 2). Nilai Kejamakan. Lawang Sewu mewakili satu kelas atau jenis khusus bangunan yang cukup berperan, karena karya arsitektur tersebut mewakili suatu jenis khusus yang spesifik; 3). Nilai Kelangkaan. Lawang Sewu jelas sebuah bangunan yang sangat langka, karena hanya satu dari jenisnya, atau merupakan contoh terakhir yang masih ada, bahkan merupakan satu-satunya di dunia, atau tidak ada di lain daerah; 4). Nilai Peranan Sejarah,Lawang Sewu juga menjadi saksi sejarah perjalanan penjajahan kolonial sampai Pertempuran Lima Hari di Semarang.  Dengan melihat criteria ini berarti juga sah apabila gedung ini layak dikonservasi, seperti telah dilakukan Pemerintah Kota Semarang dengan SK Wali Kota 650/50/1992 telah memasukkan Lawang Sewu sebagai salah satu dari 102 bangunan kuno atau bersejarah yang wajib dilindungi.<br />
Terhadap banyak fungsi yang akan disandangkan pada gedung Lawang Sewu, mulai rencana dialih fungsikan sebagai hotel, kantor dan pelayanan pembelian tiket PT.KAI, exibition room yang dilengkapi pertokoan, gallery foto, ruang converensi, sentra industri kreatif  sampai rencana penggunaan sebagai museum kerata api bahkan sebagai multy use building,. menunjukkan belum adanya suatu konsep pengalih fungsian yang jelas, baik dari PT.KAI sebagai pemilik dan pemerintah kota Semarang sebagai pemangku wilayah dimana bangunan Lawang Sewu berada.<br />
Main frame yang jelas dari PT.KAI dan arah kebijakan dari pemerintah kota Semarang akan sangat dibutuhkan dalam pengalih fungsian gedung Lawang Sewu kedepan.<br />
Pengalih fungsian gedung Lawang Sewu tentunya tidak lepas dari upaya konservasi.  Konservasi merupakan istilah yang menjadi payung dari semua kegiatan pelestarian sesuai dengan kesepakatan internasional yang telah dirumuskan dalam Piagam Burra tahun 1981. Konservasi : Adalah pelestarian suatu tempat agar makna kultural yang dikandungnya terpelihara dengan baik. Konservasi dapat meliputi seluruh kegiatan pemeliharaan dan sesuai dengan situasi dan kondisi setempat dapat pula mencakup preservasi, restorasi, rekonstruksi, adapsi dan revitalitasi. Dengan mencermati pengertian diatas, maka cakupan konservasi gedung Lawang Sewu yang paling tepat terhadap kondisi saat ini adalah adaptasi/revitalisasi., yaitu kegiatan melestarikan bangunan masa lalu dengan memberikan fungsi yang lebih sesuai dengan kondisi masa sekarang. Keberanian mengembangkan dan menyesuaikan dengan kondisi fisik, sosial, ekonomi dan regulasi saat ini sungguh diperlukan.<br />
Dalam sosialisasi tersebut, dijelaskan bahwa pemugaran gedung Lawang Sewu baru merupakan tahap awal dan diharapkan akan direncanakan tahap-tahap berikutnya. Pada tahap awal gedung ini akan dipugar dan dikembalikan pada bentuk aslinya. PT.KAI akan menfungsikan sebagai fasilitas kantor dan pendukung aktifitas perkereta apian, sebagian akan dijadikan fasilitas komersial yang akan mendukung operasional dan maintenance gedung ini.<br />
Acungan jempol bagi PT,KAI, atas upaya yang telah dilakukan dan tentunya akan menelan biaya yang tidak sedikit. Sebagai masukan dalam rencana pemfungsiannya harusah memperhatikan potensi dan permasalahan dari gedung ini. Secara fisik gedung Lawang Sewu direncanakan sebagai fungsi perkantoran dengan perencanaan yang amat baik dalam memanfaatkan iklim tropis di kota Semarang. Penghawaan dan penerangan ruang dipikirkan dengan sempurna. Jaringan mekanikal elektrikal diselesaikan dengan bagus dan gedung ini berhasil sebagai landmark/tetenger dari kawasan sekitarnya, sebagai catatan gedung ini direncanakan dengan konsep dan teknologi yang berkembang saat itu. Secara non fisik gedung Lawang Sewu identik dengan kota Semarang, keberadaannya sudah dikenal di dunia internasional.<br />
Dengan kondisi tersebut hendaknya menjadi pertimbangan bagi PT.KAI dalam menentukan rencana pemfungsiannya, secara fisik gedung ini memiliki keterbatasan dalam disain dan konstruksi bangunannya, karena pada masa itu memang difungsikan untuk fungsi kantor dengan menggunakan konstruksi yang berkembang pada masa itu pula. Apabila fungsi bangunan tidak mengalami perubahan, kegiatan pemugaran dengan dikembalikan kebentuk aslinya seperti yang dilakukan sekarang, itu sudah cukup dan berharap pemerintah kota Semarang mengeluarkan kebijakan untuk membantu biaya operasional dan maintenance bangunan setiap tahunnya. Apabila akan direncanakan sebagai bangunan komersial dengan fungsi-fungsi yang lain pada masa sekarang, kondisi masyarakatnya berbeda, perkembangan teknologinya berbeda pula dan ini kondisi riil saat ini. Sebagai contoh, jika yang direncanakan adalah fungsi ruang pamer, maka yang harus dipikirkan adalah karakter dan persyaratan sebagai ruang pamer itu dapat terpenuhi oleh gedung ini apakah tidak, apakah konstruksi bangunannya mendukung, apakah memiliki alat transportasi vertikal yang memadahi untuk mengangkut materi pameran yang dibawa ke lantai 3, dan lain-lain, belum lagi dipikirkan tentang tingkat persaingan dengan fasilitas sejenis di kota Semarang.<br />
Memang diperlukan adaptasi dan inovasi terhadap perkembangan saat ini dalam pemfungsian gedung Lawang Sewu kedepan. Konservasi yang dilakukan harus tuntas kalau tak ingin gedung Lawang Sewu mangkrak kembali. Kepedulian PT. KAI harus didukung oleh pemerintah dan masyarakat kota Semarang serta pihak-pihak yang peduli.<br />
Kegiatan konservasi yang akan dilakukan hendaknya tidak hanya sekedar perbaikan tetapi juga memberikan fungsi baru  dan berinovasi yang memungkinkan banyak masyarakat akan terlibat di dalamnya. Inovasi bukanlah teknologi baru, sebagaimana dikemukakan Thomas D.Kuczmarski dalam Leadership Strategies for Competitive Edge (1996), Inovasi adalah sebuah prinsip, It is tha art of welcoming risk, jadi inovasi adalah cara pikir. Cara pikir yang baru tentang bagaimana menentukan fungsi gedung Lawang Sewu dari sisi bisnis, strategi dan penerapannya, dengan demikian nafas kehidupan pada gedung Lawang Sewu akan terus berdenyut dan masyarakat merasakan turut memiliki gedung itu. Strategi pendekatannya tetap mengacu pada pronsip konservasi bangunan yang ada tetapi dikontekskan pada jaman kini.<br />
Pertama, Pada aspek fisik bangunan, adaptasi pada perkembangan teknologi saat ini diperlukan untuk menunjang aktifitas didalamnya. Penerapan dan penyelesaian masalah yang muncul dilakukan dengan tetap memperhatikan kondisi eksisting bangunan dan kaidah-kaidah konservasi yang telah diregulasikan.<br />
Kedua, Kebijakan pemerintah kota Semarang amat diperlukan dalam mendukung konservasi gedung Lawang Sewu, yaitu dengan memberikan arahan yang jelas pada rencana tata ruang di kawasan Lawang Sewu, kemudahan pengurusan perijinan dalam mengadaptasikan gedung Lawang Sewu dengan situasi perkembangan perkotaan saat ini<br />
Ketiga, membangun kawasan ’cluster of inovation’, kawasan yang diharapkan akan memberikan sumbangan pemikiran untuk memikirkan inovasi dalam berbagai bentuk, mulai dari rekayasa perancangan hingga aplikasi, rekayasa kondisi eksisting dan rekayasa teknologi,untuk mendukung konservasi gedung Lawang Sewu yang dapat dilakukan oleh siapa saja yang perduli pada gedung Lawang Sewu, baik oleh masyarakat institusi perguruan tinggi, swasta, LSM, institusi pemerintahan dan intern PT.KAI sendiri.</p>
<p>Diperlukan keberanian dan semangat kebersamaan PT.KAI , pemerintah dan masyarakat kota Semarang serta siapapun yang peduli untuk mewujudkannya.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/senthong.wordpress.com/86/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/senthong.wordpress.com/86/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/senthong.wordpress.com/86/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/senthong.wordpress.com/86/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/senthong.wordpress.com/86/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/senthong.wordpress.com/86/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/senthong.wordpress.com/86/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/senthong.wordpress.com/86/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/senthong.wordpress.com/86/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/senthong.wordpress.com/86/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/senthong.wordpress.com/86/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/senthong.wordpress.com/86/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/senthong.wordpress.com/86/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/senthong.wordpress.com/86/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=senthong.wordpress.com&amp;blog=9177900&amp;post=86&amp;subd=senthong&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://senthong.wordpress.com/2009/12/27/pemugaran-lawang-sewu-harus-tuntas/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/f7628bd0e393df78ca5aea3482042ac7?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">senthong</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://senthong.files.wordpress.com/2009/12/lawangsewu-24.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">lawangsewu-24</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://senthong.files.wordpress.com/2009/12/lawangsewu-07.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">lawangsewu-07</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://senthong.files.wordpress.com/2009/12/lawangsewu-02.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">lawangsewu-02</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Kota Semarang Rentan Kebakaran</title>
		<link>http://senthong.wordpress.com/2009/12/22/kota-semarang-rentan-kebakaran/</link>
		<comments>http://senthong.wordpress.com/2009/12/22/kota-semarang-rentan-kebakaran/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 22 Dec 2009 08:32:28 +0000</pubDate>
		<dc:creator>senthong</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://senthong.wordpress.com/?p=81</guid>
		<description><![CDATA[Menyimak kejadian kebakaran yang menimpa beberapa kota besar di tanah air, dengan korban jiwa dan materiil yang tentunya tidak sedikit membuat kita mesti berpikir dan berandai-andai jika kejadian itu menimpa kota kita. Walaupun kadang tak kita rasakan kejadiannya, ternyata frekuensi kejadian rata-rata 2-3 kali per hari dan penyebab yang paling besar adalah listrik, hubungan arus [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=senthong.wordpress.com&amp;blog=9177900&amp;post=81&amp;subd=senthong&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://senthong.files.wordpress.com/2009/12/kobong-021.jpg"><img class="alignleft size-full wp-image-83" title="kobong-02" src="http://senthong.files.wordpress.com/2009/12/kobong-021.jpg?w=655" alt=""   /></a><a href="http://senthong.files.wordpress.com/2009/12/kobong-01.jpg"><img class="alignleft size-full wp-image-84" title="kobong-01" src="http://senthong.files.wordpress.com/2009/12/kobong-01.jpg?w=655" alt=""   /></a></p>
<p>Menyimak kejadian kebakaran yang menimpa beberapa kota besar di tanah air, dengan korban jiwa dan materiil yang tentunya tidak sedikit membuat kita mesti berpikir dan berandai-andai jika kejadian itu menimpa kota kita. Walaupun kadang tak kita rasakan kejadiannya, ternyata frekuensi kejadian rata-rata 2-3 kali per hari dan penyebab yang paling besar adalah listrik, hubungan arus pendek.</p>
<p>Rasanya tak habis pikir ketika melihat data fasilitas dan peralatan yang dimiliki dan dikuasai dinas pemadam kebakaran kota Semarang dibandingkan dengan luas kota Semarang yang harus dilindungi,  belum lagi dengan jumlah bangunannya, kawasannya, daerah terbukanya, apa yha mampu memberikan perlindungan ataupun pengatasan kebakaran secara  maksimal?. kondisi serupa juga dialami kota-kota besar di tanah air, meskipun kota itu Jakarta.</p>
<p><strong>Dari sisi Dinas Pemadam Kebakaran Kota.</strong></p>
<p>Pos Pemadam Kebakaran, jumlahnya terbatas dan tidak terdistribusi secara merata pada skala kota dan kenyataannya jangkauan pelayananpun terbatas yang disesuaikan dengan waktu evakuasi ( dibawah 20 menit ). Jadi dengan kondisi jalan kota yang padat, gerakan mobil kebakaran terbatas akibatnya jarak tempuhnya terbatas. Kejadian kebakaran di area-area diluar jangkauan pelayanannya pasti mempunyai kondisi yang buruk ketika mobil pemadam kebakaran sampai di lokasi.</p>
<p>Fasilitas Pemadam kebakaran, ternyata juga kurang memenuhi persyaratan, berapa jumlah mobil pemadam kebakaran yang dilengkapi tangga? Sampai bangunan tingkat berapa mobil itu berfungsi? Untuk bangunan 12 lantai, semprotan airnya tentu akan susah menjangkaunya. Apakah keberadaan mobil pemadam tersebut juga sudah dipertimbangkan dengan dimensi jalan yang ada pada kota Semarang ? kalau susah memasuki jalan2 di perkampungan yha tentunya akan percuma.</p>
<p><strong>Dari sisi Fasilitas Prasarana Kotanya.</strong></p>
<p>Sumber air, terdapat beberapa sumber/sumur air di kota Semarang tetapi keberadaannya terpencar sehingga tetap akan menyulitkan proses pengambilannya apabila dibutuhkan. Sementara keberadaan hidrant pilar hanya pada perumahan elit, yang dilokasi lain kondisinya memprihatinkan bahkan tidak ada sama sekali.</p>
<p><strong>Dari sisi kondisi bangunan di kota Semarang.</strong></p>
<p>Bangunan-bangunan di kota semarang rata-rata tidak menyediakan biaya operation dan maintenance yang memadai, sehingga kondisi jaringan pemadam kebakaran yang ada padanya rata-rata dalam kondisi yang tak siap bekerja, banyak instalasi yang rusak dan aus ( jarang pemilik bangunan mereview kondisi jaringan mekanikal elektrikal yang ada pada bangunan mereka, sebagai catatan harusnya minimal 5 tahun sekali ), bahkan dibeberapa bangunan, tangga darurat kebanyakan didesain tidak tahan api dan bahkan dipergunakan untuk menyimpan arsip, sehingga akan menyulitkan dalam proses evakuasi. Tanda-tanda penyelamatan ketika terjadi kebakaran jarang kita lihat di bangunan umum apalagi di perkantoran juga desain bangunan yang tidak responsive dengan proses pemadam kebakarannya.</p>
<p><strong>Dari sisi regulasi,</strong></p>
<p>Dalam pengurusan IMB ( ijin mendirikan bangunan ) yang diminta adalah gambar siteplan, denah, tampak, potongan bangunan dan perhitungan konstruksi ( kalu lebih dari 1 lantai ), lebih kesubstansial untuk menghitung berapa biaya yang akan dikenakan. Kelihatannya tidak pernah dipertanyakan bagaimana sistim kelistrikan yang akan dirancangkan ( dari data penyebab utama adalah kelistrikan ). Ketika bangunan sudah berumur lebih dari 5 tahun, mestinya juga dilakukan review kembali ( post occupation evaluation ) terhadap perkembangan sistim kelistrikan ataupun jaringan mekanikal elektrikal lain. yang ada pada bangunan tersebut. Artinya tidak ada lembaga yang memeriksa, semua diserahkan pada pemilik bangunan.</p>
<p>Jadi yha memang benar, bahwa <strong>kota Semarang rentan terhadap kejadian kebakaran</strong>. Sebagai masukan pada para pemilik bangunan di Semarang janganlah terlalu berharap pada kesiapan petugas pemadam kebakaran kota ( apalagi untuk bangunan tinggi ), silakan persiapkan jaringan pemadam kebakaran di dalam bangunan anda semaksimal mungkin. Apabila benar2 kejadian kebakaran menimpa, harus yakin bahwa bangunan anda akan mampu memadamkan dengan kemampuan sendiri, apabila ada bantuan dari dinas kebakaran kota, yha&#8230;alhamdulillah.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/senthong.wordpress.com/81/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/senthong.wordpress.com/81/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/senthong.wordpress.com/81/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/senthong.wordpress.com/81/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/senthong.wordpress.com/81/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/senthong.wordpress.com/81/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/senthong.wordpress.com/81/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/senthong.wordpress.com/81/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/senthong.wordpress.com/81/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/senthong.wordpress.com/81/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/senthong.wordpress.com/81/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/senthong.wordpress.com/81/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/senthong.wordpress.com/81/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/senthong.wordpress.com/81/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=senthong.wordpress.com&amp;blog=9177900&amp;post=81&amp;subd=senthong&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://senthong.wordpress.com/2009/12/22/kota-semarang-rentan-kebakaran/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/f7628bd0e393df78ca5aea3482042ac7?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">senthong</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://senthong.files.wordpress.com/2009/12/kobong-021.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">kobong-02</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://senthong.files.wordpress.com/2009/12/kobong-01.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">kobong-01</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Kawasan Terminal Bis Terboyo sebagai Kawasan Adaptif terhadap Banjir dan Rob</title>
		<link>http://senthong.wordpress.com/2009/12/10/kawasan-terminal-bis-terboyo-sebagai-kawasan-adaptif-terhadap-banjir-dan-rob/</link>
		<comments>http://senthong.wordpress.com/2009/12/10/kawasan-terminal-bis-terboyo-sebagai-kawasan-adaptif-terhadap-banjir-dan-rob/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 10 Dec 2009 06:50:58 +0000</pubDate>
		<dc:creator>senthong</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://senthong.wordpress.com/?p=76</guid>
		<description><![CDATA[Saat ini kondisi kawasan terminal bis Terboyo di wilayah Semarang Utara sedang merana. kondisi fisik kawasan,bangunan ataupun fasilitas pendukung terminal yang rusak dan tidak nyaman tentunya akan menyurutkan keinginan masyarakat pengguna untuk memanfaatkannya, apalagi ditambah dengan aksesibilitas menuju dan meninggalkan kawasan terminal yang padat dan banjir dimusim penghujan serta permasalahan rob yang cenderung terus meninggi, [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=senthong.wordpress.com&amp;blog=9177900&amp;post=76&amp;subd=senthong&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://senthong.files.wordpress.com/2009/12/terboyo-021.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-75" title="terboyo-02" src="http://senthong.files.wordpress.com/2009/12/terboyo-021.jpg?w=300&#038;h=230" alt="" width="300" height="230" /></a>Saat ini kondisi kawasan terminal bis Terboyo di wilayah Semarang Utara sedang merana. kondisi fisik kawasan,bangunan ataupun fasilitas pendukung terminal yang rusak dan tidak nyaman tentunya akan menyurutkan keinginan masyarakat pengguna untuk memanfaatkannya, apalagi ditambah dengan aksesibilitas menuju dan meninggalkan kawasan terminal yang padat dan banjir dimusim penghujan serta permasalahan rob yang cenderung terus meninggi, tentunya akan menurunkan kredibilitas kawasan. Kawasan terminal bis Terboyo saat ini memang merupakan bahan kajian yang menarik, bukan saja banyak aspek yang mendorong timbulnya permasalahan saat ini, juga dalam mencari solusi yang tepat terhadap permasalahan yang ada bukan merupakan pekerjaan gampang. Upaya pemerintah kota Semarang telah dilakukan diantaranya dengan membuat jalur alternatif, renovasi beberapa bagian kawasan dan bangunan terminal serta peninggian emplasemen dicoba untuk mengatasi permasalahan yang ada. Beberapa upaya cendikiawan yang berupa hasil kajian, penelitian dan rancangan yang berkaitan langsung dan tak langsung terhadap kawasan terminal terboyo juga telah dihasilkan Pada kenyataannya upaya-upaya tersebut belum membuahkan hasil . Pola pengatasan masalah yang bersifat tidak memberikan solusi yang tepat. merencanakan pengembangan kawasan terminal Terboyo sesegera mungkin amat ditunggu oleh masyarakat. Pemerintah kota Semarang sebaiknya bersungguh-sungguh agar tidak menimbulkan permasalahan baru dikemudian hari. Permasalahan banjir terutama dimusim penghujan dan kondisi rob yang semakin meninggi tentunya menjadi kajian. Perencanaan pembangunan dan pengembangan kawasan terminal bis Terboyo dengan melakukan perbaikan bangunan ataupun lingkungan pada site yang sama mungkin sesuatu yang sia-sia. Biaya yang diluncurkan tentunya tidak sedikit tetapi dalam beberapa tahun mendatang permasalahan saat ini akan berulang . Pemerintah kota Semarang harus berani berpikir jauh kedepan, mengadakan terobosan-terobosan dan bermimpi. Sebagai ide awal mengapa terminal Terboyo tidak dibangun diatas banjir dan rob, mengawang seperti bangunan panggung di Kalimantan dan bangunan tradisional di daerah pantai. Aksesibilitas dapat direncanakan dengan menghubungkan ring road Utara yang dihubungkan dengan jalan propinsi di daerah Genuk dengan menggunakan jalan layang, sehingga kendaraan berat tidak melalui jalan raya Kaligawe dan mengurangi kepadatannya. bangunan terminal dipadukan dengan bangunan-bangunan komersial dan hunian untuk menjawab kebutuhan masyarakat untuk menggantikan bangunan dan hunian di sekitar yang rentan terhadap banjir ataupun rob. Konsep pembangunannya dapat dilakukan secara bertahap sesuai dengan prioritas kebutuhan dan permintaan masyarakat pengguna. Perhitungan secara ekonomi perlu dilakukan, tetapi kepedulian pemerintah kota Semarang dalam memberikan pelayanan kepada masyarakatnya dalam menyediakan fasilitas-fasilitas kota dan keberanian menggagas kota yang adaptif terhadap bencana banjir dan rob amatlah tinggi nilainya.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/senthong.wordpress.com/76/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/senthong.wordpress.com/76/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/senthong.wordpress.com/76/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/senthong.wordpress.com/76/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/senthong.wordpress.com/76/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/senthong.wordpress.com/76/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/senthong.wordpress.com/76/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/senthong.wordpress.com/76/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/senthong.wordpress.com/76/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/senthong.wordpress.com/76/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/senthong.wordpress.com/76/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/senthong.wordpress.com/76/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/senthong.wordpress.com/76/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/senthong.wordpress.com/76/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=senthong.wordpress.com&amp;blog=9177900&amp;post=76&amp;subd=senthong&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://senthong.wordpress.com/2009/12/10/kawasan-terminal-bis-terboyo-sebagai-kawasan-adaptif-terhadap-banjir-dan-rob/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/f7628bd0e393df78ca5aea3482042ac7?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">senthong</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://senthong.files.wordpress.com/2009/12/terboyo-021.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">terboyo-02</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>menggagas kota baru Mijen</title>
		<link>http://senthong.wordpress.com/2009/11/20/menggagas-kota-baru-mijen/</link>
		<comments>http://senthong.wordpress.com/2009/11/20/menggagas-kota-baru-mijen/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 20 Nov 2009 04:49:09 +0000</pubDate>
		<dc:creator>senthong</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://senthong.wordpress.com/?p=64</guid>
		<description><![CDATA[Latar Belakang Sebagai layaknya kota-kota besar di Indonesia, Kota Semarang senantiasa memiliki kompleksitas permasalahan perkotaan yang semakin meningkat. Dari satu sisi dihadapkan pada dampak pertumbuhan dan perkembangan kota itu sendiri, baik dari aspek fisik, penataan ruang kota, ekonomi / perdagangan, kepadatan penduduk dan masih banyak aspek lainnya. Sementara dari sisi lain, sejalan dengan pemberian otonomi [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=senthong.wordpress.com&amp;blog=9177900&amp;post=64&amp;subd=senthong&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Latar Belakang</p>
<p><a href="http://senthong.files.wordpress.com/2009/11/simpul-mijen-senthong.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-66" title="simpul-mijen-senthong" src="http://senthong.files.wordpress.com/2009/11/simpul-mijen-senthong.jpg?w=300&#038;h=233" alt="" width="300" height="233" /></a>Sebagai layaknya kota-kota besar di Indonesia, Kota Semarang senantiasa memiliki kompleksitas permasalahan perkotaan yang semakin meningkat. Dari satu sisi dihadapkan pada dampak pertumbuhan dan perkembangan kota itu sendiri, baik dari aspek fisik, penataan ruang kota, ekonomi / perdagangan, kepadatan penduduk dan masih banyak aspek lainnya. Sementara dari sisi lain, sejalan dengan pemberian otonomi daerah kepada Daerah (Kota dan Kabupaten), selain dituntut untuk menanggung beban pembiayaan pemerintah daerah sendiri, juga dituntut untuk memiliki kemampuan dalam mengelola dan mensinergikan sumber daya / potensi yang dimilikinya, guna mengakselerasi pertumbuhan ekonomi dan pembangunan daerah. Kenyataan tersebut tentunya perlu disadari bahwa beban ekses otonomi daerah tersebut tidak hanya dipikul oleh Pemerintah Daerah saja, namun merupakan tanggung jawab bersama dari pelaku pembangunan (Stakeholders : Pemerintah Daerah, Swasta dan Masyarakat). Dalam konteks ini perlu dimaklumi bahwa Kota Semarang, sebagai salah satu kota raya (metropolitan) di Indonesia masih tertinggal dibandingkan dengan kota-kota metropolitan lainnya, baik dari aspek pengembangan dan penataan kota, pertumbuhan ekonomi / perdagangan, pemberdayaan masyarakat maupun sektor-sektor pembangunan lainnya, yang seharusnya berpotensi ekonomis bagi daerah. Dengan kondisi demikian, pelaku pembangunan daerah perlu secara bersama-sama berperan aktif dalam mengambil langkah-langkah dan terobosan untuk mengatasi kekurangan yang ada atau setidaknya berupaya mengurangi diri atas ketertinggalan dari kota-kota metropolitan lainnya. Dalam menyikapi hal tersebut diatas, maka perlu dilakukan kegiatan pembangunan yang memiliki daya dukung bagi berbagai sektor pembangunan, sehingga pada gilirannya nanti dapat dijadikan andalan daerah sekaligus mampu meningkatkan pertumbuhan dan perkembangan daerah itu sendiri. Berkaitan dengan hal tersebut, dalam kesempatan ini perlu ditawarkan sebuah konsep pemikiran bahwa salah satu kegiatan pembangunan yang memiliki peluang bisnis yang cukup besar bagi kota Semarang adalah penyediaan ruang (space) untuk suatu aktivitas tertentu yang memiliki nilai ekonomis tinggi, antara lain perencanaan kota satelit baru  dengan menghadirkan pusat pertumbuhan baru kota Semarang yang potensial. Padahal sesungguhnya Kota Semarang memiliki potensi semua itu, hanya saja belum digali secara maksimal. Sebagaimana diketahui bahwa dewasa ini penyediaan ruang (space) untuk Pusat Pertumbuhan Baru merupakan kebutuhan penting bagi masyarakat modern, mengingat pemerataan pembangunan harus dapat dinikmati oleh semua lapisan masyarakat kota itu. Berangkat dari gagasan diatas, maka kegiatan pembangunan yang sejalan dengan pemikiran terebut adalah penyediaan lahan untuk menjadi Pusat Pertumbuhan Kota Baru di daerah yang memang tepat dan mempunyai aspek pendukung yang memadahi, dimana pembangunan tersebut selain dapat dijadikan sebagai ruang terbuka hijau, juga memiliki multiplier effect bagi berbagai sektor pembangunan, seperti : sektor olah raga, pariwisata, ketenagakerjaan dan perdagangan / ekonomi dan pendidikan. Kecamatan Mijen yang selama masuk dalam pemekaran kota Semarang serta merupakan simpul transportasi yang menghubungkan Gunungpati, Kendal dan kota Semarang belum tersentuh secara maksimal dalam pembangunan kiranya menjadi daerah potensial untuk dikembangkan menjadi sebuat Pusat Pertumbuhan Baru di kota Semarang. Keberadaan Bukit Semarang Baru ( BSB ) pada kenyataannya belum dapat mengangkat pembangunan kawasan sekitarnya . Untuk itulah perlu kiranya mulai dipikirkan rencana dan gagasan bagi pengembangan daerah tersebut yang didasarkan tidak hanya dari satu aspek tetapi dilakukan amatan secara terpadu dari aspek fisik, sosial, ekonomi dan regulasi yang ada.</p>
<p><span id="more-64"></span>LOKASI</p>
<p>Lokasi yang ditunjuk sebagai kawasan Pusat Pertumbuhan Baru di kecamatan Mijen berada di desa Tambangan, Bubakan dan Cangkiran.</p>
<p>Tinjauan Skala Kota</p>
<p>Dalam Skala Kota keberadaan Lokasi tentu berada pada BWK IX di Wilayah Pengambangan IV dan Blok 3. Untuk memberikan Gambaran potensi lokasi tentu saja harus memperhatiakan rencana Pengembangan kota dan Fasilitas perkotaan yang ada. Arahan pengembangan di BWK IX di wilayah pengembangan IV dan Blok 3 direncanakan sebagai zona pengembangan pemukiman, agroindustri, rekreasi, perdagangan dan jasa serta area lindung. Berdasarkan data yang ada untuk pengembangan rekreasi di wilayah ini telah direncanakan secara total untuk fasilitas bermain sejumlah 282 buah ( 54.500 m2 ), lapangan olah raga 22 buah ( 27.500 m2 ), area taman 2 buah ( 2600m2 ), Bioskop 2 buah ( 4000m2 ), gedung olahraga 1 buah ( 2000 m2 ) dan kolam renang 2 buah ( 8000 m2 ). Sedangkan untuk perdagangan dan jasa telah direncanakan fasilitas warung 291 buah ( 29100 m2 ), pertokoan 29 buah ( 34.800 m2 ), pasar 2 buah ( 21000 m2 ) dan super market 1 buah ( 20000 m2 ) Apabila dicermati kawasan kecamatan Mijen dan sekitarnya saat ini telah didirikan fasilitas-fasilitas perumahan dan industri, kondisi inipun tetap merupakan aspek yang harus diperhatikan dalam merencanakan fasilitas di kota baru di kecamatan Mijen. Bukit Semarang Baru ( BSB ) merupakan salah satu kawasan baru yang dikembangkan oleh pihak ketiga/investor. Kawasan ini dalam rencananya akan mengembangkan fasilitas perumahan, niaga dan bisnis terpadu, kawasan industri bersih dan berikat, fasilitas perkotaan , rekreasi dan olahraga yang terdiri dari, waterboom, kolam renang, lapangan olahraga indoor, danau, pemancingan, perahumotor, lapangan golf, clubhouse dan hutan lindung. Dengan adanya arahan kebijakan dari pemerintah tetang penggunaan lahan di kawasan kecamatan Mijen dan adanya perkembangan fasilitas kota oleh investor atau pengembang ini, tentunya akan berpengaruh terhadap rencana penempatan fasilitas-fasilitas kota yang akan dibangun . Pemilihan fasilitas dan perhatian terhadap nilai ekonomis dan perkembangan kota tentunya akan amat berguna bagi pemerintah untuk dapat menarik pihak ketiga untuk ikut serta membangu kota baru di kecamatan Mijen, karena dalam hal ini pemerintah tidak dapat turun tangan sendiri, bantuan pihak ketiga tentu saja akan sangat bermanfaat dalam mempercepat gagasan pengembangan kota baru tersebut.</p>
<p>Penentuan Zoning Fasilitas Perkotaan terpilih</p>
<p><a href="http://senthong.files.wordpress.com/2009/11/zoning-mijen-senthong.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-67" title="zoning-mijen-senthong" src="http://senthong.files.wordpress.com/2009/11/zoning-mijen-senthong.jpg?w=300&#038;h=198" alt="" width="300" height="198" /></a>Dengan memperhatikan potensi lokasi, kebijakan pemerintah dan pengembangan di sekitar lokasi, maka fasilitas perkotaan terpilih :</p>
<p>•	fasilitas pendidikan dan pelatihan unggulan, fasilitas ini dipandang penting mengingat prasarana yang ada masih sangat kurang dan Unggulan yang dimaksudkan adalah yang dibutuhkan oleh masyarakat dan pelaku bisnis dengan kualitas yang baik.</p>
<p>•	perdagangan dan jasa berupa centra buah dan sayuran, Fasilitas ini dipandang penting karena saat ini telah ada embrio dari kegiatan tersebut berupa daerah pengumpul dari hasil-hasil pertanian dari masyarakat sekitar. Keberadaannya diharapkan akan menjadi salah satu magnet dalampengembangan kawasan.</p>
<p>•	Olahraga ekstrem , Faslitas ini dipilih mengingat pada kawasan ini sering digunakan untuk event-event olahraga yang memerlukan tantangan, seperti offroad, motorcross, dll.</p>
<p>•	wisata Agro, Fasilitas ini dipilih karena pada kawasan ini potensial sebagai daerah perkebunan dengan jenis2 tumbuhan buah atau sayuran tertentu. Jika dikelola dengah baik diharapkan daerah ini akan berkembang menjadi kawasan wisata dimasa datang.</p>
<p>•	Danau Buatan , fasilitas ini dipilih berdasarkan kountur kawasan yang amat memungkinkan untuk fungsi tersebut, keberadaan danau buatan ini diharapkan mampu memberikan wilayah resapan pengganti dari wilayah yang akan beralih fungsi apabila rencana pengembangan kota baru tersebut direalisasikan.</p>
<p>•	Hutan Lindung. Fasilitas ini dipilih dalam upaya untuk mengembalikan fungsi kawasan ini sebagai daerah hijau, resapan dan penyangga bagi kota Semarang pada umumnya.</p>
<p>Dengan usulan fasilitas-fasilitas yang hendaknya dikembangkan dikawasan kota baru kecamatan Mijen ini diharapkan akan dapat mempercepat perkembangan kotanya , karena fasilitas ini yang dianggap paling layak dan siap untuk diterapkan disana.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/senthong.wordpress.com/64/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/senthong.wordpress.com/64/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/senthong.wordpress.com/64/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/senthong.wordpress.com/64/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/senthong.wordpress.com/64/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/senthong.wordpress.com/64/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/senthong.wordpress.com/64/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/senthong.wordpress.com/64/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/senthong.wordpress.com/64/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/senthong.wordpress.com/64/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/senthong.wordpress.com/64/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/senthong.wordpress.com/64/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/senthong.wordpress.com/64/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/senthong.wordpress.com/64/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=senthong.wordpress.com&amp;blog=9177900&amp;post=64&amp;subd=senthong&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://senthong.wordpress.com/2009/11/20/menggagas-kota-baru-mijen/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/f7628bd0e393df78ca5aea3482042ac7?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">senthong</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://senthong.files.wordpress.com/2009/11/simpul-mijen-senthong.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">simpul-mijen-senthong</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://senthong.files.wordpress.com/2009/11/zoning-mijen-senthong.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">zoning-mijen-senthong</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>lapangan golf Sisingamangaraja dan kebijakan tukar guling</title>
		<link>http://senthong.wordpress.com/2009/11/11/lapangan-golf-sisingamangaraja-dan-kebijakan-tukar-guling-2/</link>
		<comments>http://senthong.wordpress.com/2009/11/11/lapangan-golf-sisingamangaraja-dan-kebijakan-tukar-guling-2/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 11 Nov 2009 09:07:04 +0000</pubDate>
		<dc:creator>senthong</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://senthong.wordpress.com/?p=57</guid>
		<description><![CDATA[Tukar guling aset-aset pemerintah kota sering dilakukan sebagai salah satu cara untuk mengatasi sumber dana pemerintah kota yang terbatas dan upaya mendapatkan dana segar untuk pembiayaan rencana pembangunan perkembangan perkotaan . Dalam pelaksanaannya acapkali menimbulkan polemik, melibatkan instistusi pemerintah kota, lembaga sosial masyarakat, pengembang, institusi legeslatif dan akademisi yang mendukung dan menolak rencana tersebut dengan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=senthong.wordpress.com&amp;blog=9177900&amp;post=57&amp;subd=senthong&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="Section1">
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><em><span style="font-size:9pt;font-family:Arial;" lang="SV">Tukar guling aset-aset pemerintah kota sering dilakukan sebagai salah satu cara untuk mengatasi sumber dana pemerintah kota yang terbatas dan upaya mendapatkan dana segar untuk pembiayaan rencana pembangunan perkembangan perkotaan . Dalam pelaksanaannya acapkali menimbulkan polemik, melibatkan instistusi pemerintah kota, lembaga sosial masyarakat, pengembang, institusi legeslatif dan akademisi yang mendukung dan menolak rencana tersebut dengan segala argumentasinya.</span></em></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><em><span style="font-size:9pt;font-family:Arial;" lang="SV">Dari catatan sejarah tukar guling aset-aset pemerintah kota, pemerintah kota lebih banyak memenangkan rencana tersebut dan menuangkannya dalam suatu kebijakan. Terbukti dengan berhasilnya tukar guling bangunan ataupun kawasan bersejarah dan digantikan dengan bangunan ataupun kawasan baru dengan fungsi yang berbeda.</span></em></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><em><span style="font-size:9pt;font-family:Arial;" lang="SV">Lapangan Golf Sisingamangaraja Semarang, berlokasi di daerah resapan air dan mempunyai aspek kesejarahan sebagai lapangan golf 9 hole pertama di Indonesia yang dibangun Belanda.<br />
</span></em></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><em><span style="font-size:9pt;font-family:Arial;" lang="SV">Penolakan dari  masyarakat, LSM, pemerhati lingkungan, Lembaga Penasehat Pembangunan Kota ( LP2K) dan akademisi dari berbagai institusi dan dukungan dari sektor swasta dan anggota masyarakat yang lain terhadap rencana pemerintah kota Semarang tersebut menjadi polemik berkepanjangan. Akan hilangnya daerah hijau dengan fungsi paru-paru kota dan daerah resapan menjadi perhatian utama. Pada situasi dan kondisi tersebut diperlukan suatu kearifan pemikiran dalam mensikapi dan yang dapat diterima oleh pihak-pihak yang berpolemik tentang konsep pembangunan yang berkelanjutan. </span></em></strong></p>
</div>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:9pt;font-family:Arial;" lang="SV"> </span> <span style="font-size:9pt;font-family:Arial;" lang="SV">Kata kunci : Tukar guling, daerah hijau dan resapan.</span></p>
<p class="Level1" style="margin-left:0;"><span style="font-size:9pt;font-family:Arial;" lang="SV"><span id="more-57"></span></span><strong><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;" lang="SV">1. PENDAHULUAN</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;" lang="SV">Beberapa saat yang lalu terdapat wacana untuk me’tukarguling’ Lapangan Golf SGC yang dianggap  sudah tidak memenuhi perkembangan tuntutan kebutuhan pecinta olah raga ini di kota Semarang dan Peningkatan Pendapatan Asli daerah kota Semarang, </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;" lang="SV">Kritikan dan kecaman terhadap rencana tukar guling ini berdatangan, rata-rata menyayangkan tentang akan hilangnya daerah hijau dan resapan air di wilayah lapangan golf tersebut. </span><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Untuk kepentingan ini perlu kiranya suatu pemikiran untuk memberikan Arahan bagi Pemgembangan dan pembangunan yang arif terhadap keberadaan eks Lapangan golf SGC seandainya jadi dilakukan tukar guling dan kemudian beralih fungsi, minimal dapat mempertahankan rona awal kawasan dan diharapkan dapat mengangkat citra kawasan sekitar pada khususnya dan kota Semarang pada umumnya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;"> </span><strong><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">2. Perumusan Masalah</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;"> Diperlukan pemikiran sebagai arahan pada area resapan dalam perencanaan dan perancangan kawasan lapangan golf Sisingamangaraja baik apabila akhirnya jadi ditinggalkan ataupun tidak, sehingga dapat menjadi kawasan yang mampu mempertahankan rona awal lingkungannya lingkungan sekitar khususnya dan kota Semarang pada umumnya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;" lang="SV"> </span><a name="_Toc532109450"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;" lang="SV">3. Topografi</span></a><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;" lang="SV"> </span></p>
<p class="MsoBodyTextIndent" style="margin-left:0;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;" lang="SV">Secara topografi kondisi daerah studi berada pada ketinggian  (</span><span style="font-size:10pt;font-family:Symbol;">±</span><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;" lang="SV"> 100) m diatas permukaan laut, dan berada pada daerah yang relatif datar dengan perkiraan kemiringan lahan &lt; 5%. Dengan melihat topografi dan kemiringan lahan yang ada, wilayah kecamatan Candisari merupakan daerah cukup potensial sebagai daerah resapan dan pola drainase kawasan memungkinkan untuk mengalirkan air dengan menggunakan gaya grafitasi ke wilayah dibawahnya .</span></p>
<p class="MsoBodyTextIndent" style="margin-left:0;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;" lang="SV"> </span><a name="_Toc532109451"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;" lang="SV">4. Potensi Air Tanah</span></a><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;" lang="SV"> </span></p>
<h2 style="margin-left:0;text-indent:0;"><a name="_Toc532109452"></a><a name="_Toc532109412"></a><a name="_Toc532107836"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;font-weight:normal;" lang="SV">Menurut hasil penyelidikan Direktorat Geologi Tata Lingkungan, 2001, pada daerah studi terdapat akuifer yang berada pada kedalaman 30-90 m mbmt, dengan ketebalan setiap lapisan 1,0-6,0 meter, nilai k umumnya 5,0 m/hari dan koefisien simpanan (storage coefficient) sekitar 0,10 dan koefisien simpanan jenis (specific storage coefficient) sekitar 5&#215;10<sup>-6</sup> m<sup>-1</sup></span></a><sup><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;font-weight:normal;" lang="SV"> </span></sup></h2>
<h2 style="margin-left:0;text-indent:0;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;" lang="SV">Kondisi ini memungkinkan untuk mendapatkan sumber air tanah yang tidak begitu dalam<strong> </strong><strong> </strong> <a name="_Toc532109453"><strong></strong></a></span></h2>
<h1 style="margin-left:0;"><strong><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;" lang="SV">5.  Kaitan Penggunaan Lahan dan Perilaku DAS</span></strong><strong></strong></h1>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;" lang="SV">Kaitan penggunaan lahan dengan sumberdaya air dalam suatu DAS dapat dilihat dalam beberapa aspek berikut (Roestam Sjarief, 1997:45-46):</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:37.4pt;text-align:justify;text-indent:-18.7pt;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-family:Arial;">1).<span style="font-family:&amp;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span><!--[endif]--><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;" lang="SV">Penggunaan lahan berdampak pada curah hujan. </span><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Lahan yang penuh ditutupi kanopi pepohonan sebagaimana di kawasan pedesaan akan meningkatkan curah hujan sekitar 5-6%. Sementara itu kegiatan perkotaan dapat menyebabkan meningkatnya suspensi material padat, kadar uap air, dan turbulensi udara, sehingga mengakibatkan naiknya curah hujan sebesar 5-10%.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:37.4pt;text-align:justify;text-indent:-18.7pt;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-family:Arial;">2).<span style="font-family:&amp;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span><!--[endif]--><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Penggunaan lahan memberikan dampak besar terhadap kelembaban tanah. Lahan yang tertutup pepohonan menyebabkan berkurangnya radiasi dan tiupan angin di permukaan tanah, sehingga tanah menjadi lebih lembab dibandingkan dengan lahan terbuka.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:37.4pt;text-align:justify;text-indent:-18.7pt;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-family:Arial;">3).<span style="font-family:&amp;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span><!--[endif]--><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Tutupan kanopi pepohonan yang rapat akan mengurangi debit banjir dengan periode ulang pendek, meningkatkan aliran dasar serta meningkatkan pengisian air tanah. Namun tidak berperan banyak dalam mengurangi debit banjir dengan priode ulang yang lebih panjang (debit banjir rencana)</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:37.4pt;text-align:justify;text-indent:-18.7pt;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-family:Arial;">4).<span style="font-family:&amp;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span><!--[endif]--><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Perubahan tata guna lahan memberikan akibat pada aliran limpasan yaitu menurunkan aliran dasar (base flow), meningkatkan aliran permukaan dan perubahan watershed dari pedesaan ke perkotaan meningkatkan debit banjir hingga 50%.</span></p>
<h1 style="margin-left:0;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;"> </span><a name="_Toc532109454"><strong><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;" lang="SV">6. Komponen Hidrologi</span></strong></a><strong></strong></h1>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;" lang="SV">Berdasarkan data sekunder yang diperoleh didapatkan bahwa curah hujan rata-rata tahunan berkisar antara 2000 – 3000 mm dengan rata-rata tahunan sebesar 2.247 mm. Tercatat bulan basah yang berlangsung pada November –April dengan curah hujan bulanan &gt; 200 mm, sedangkan bulan kering berlangsung pada Juni-Oktober dengan curah hujan &lt; 200 mm. Suhu udara bulanan rata-rata 24,8 – 26,5 <sup>o</sup> C.dan evaporasi nyata sebesar 1.479 mm/tahun.</span></p>
<h2 style="margin-left:0;text-indent:0;">7. <span style="font-size:10pt;" lang="SV">Debit Banjir</span></h2>
<p class="MsoBodyText" style="margin-bottom:6pt;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;color:black;" lang="SV">Pertama-tama yang harus dipahami bahwa diasumsikan sistem tidak menerima aliran dari luar sistem, sehingga air hanya berasal dari curahan hujan yang jatuh dalam sistem. </span></p>
<p class="MsoBodyText" style="margin-bottom:6pt;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;color:black;" lang="SV">Dari data yang diperoleh berupa data hujan harian selama 5 (lima) tahun yang didapat dari stasiun terdekat yaitu stasiun Siliwangi Semarang, dilakukan perhitungan debit yang mengalir dari lahan dengan menggunakan metode Rasional. Luas lahan sebesar 14.188 Ha dan sesuai dengan kondisi lapangan, koefisien pengaliran ditetapkan sebesar = 0.45 (<em>kondisi tutupan lahan dari rumput dengan tanaman pelindung</em>). Dengan asumsi demikian dari hujan yang jatuh ke areal, 45 %-nya menjadi aliran permukaan dan 55 %-nya  terinfiltrasi kedalam tanah. </span></p>
<p class="MsoBodyText" style="margin-bottom:6pt;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;color:black;" lang="SV">Dari hasil perhitungan diatas didapatkan besarnya debit yang berasal dari area lapangan kondisi eksisting adalah sebesar Q2th =0.223 m3/det.,  Q5th =0.291 m3/det, Q10th =0.336 m3/det. Hal ini masih dapat ditampung dengan kondisi <em>drainase dalam sistem/lingkungan</em> sekitar yang umumnya berdimensi lebar dan dalam </span><span style="font-size:10pt;font-family:Symbol;color:black;">±</span><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;color:black;" lang="SV"> 50 cm dan pada titik outlet ke Kali Juweh dengan lebar </span><span style="font-size:10pt;font-family:Symbol;color:black;">±</span><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;color:black;" lang="SV"> 2 m, dalamnya saluran </span><span style="font-size:10pt;font-family:Symbol;color:black;">±</span><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;color:black;" lang="SV"> 0.6 m dan kapasitas 0,60 m3/det. Sehingga dengan kondisi demikian saluran outlet masih mampu untuk menampung aliran air yang  dialirkan ke Kali Juweh.</span></p>
<p class="MsoBodyText" style="margin-bottom:6pt;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;color:black;" lang="SV">Dengan adanya keterbatasan data maupun pengamatan lapangan, dilakukan beberapa skenario seandainya lahan dialihfungsikan untuk peruntukan yang lain. </span></p>
<p class="MsoBodyText" style="margin-bottom:6pt;"><strong><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;color:black;" lang="SV">Skenario –1</span></strong><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;color:black;" lang="SV">, jika lahan <em>seluruhnya</em> dialihfungsikan menjadi kawasan permukiman /perdagangan, sesuai dengan karakter tutupan lahan yang umumnya berupa bangunan dan jalan, dimana hampir seluruh hujan yang jatuh menjadi aliran permukaan maka sesuai dengan hasil perhitungan, akan meningkatkan besarnya debit yang keluar dari outlet dengan peningkatan sekitar 4-5 kali dari kondisi eksisting</span></p>
<p class="MsoBodyText" style="margin-bottom:6pt;"><strong><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;color:black;" lang="SV">Pada skenario yang ke-2</span></strong><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;color:black;" lang="SV">, dimana hanya <em>sebagian</em> dari lahan yang dialihfungsikan walapun tidak sebesar skenario ke-1, namun tetap memberikan pengaruh yang cukup terhadap peningkatan debit banjir rata-rata sebesar </span><span style="font-size:10pt;font-family:Symbol;color:black;">±</span><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;color:black;" lang="SV"> 2-3 kali untuk periode ulang yang sama. </span></p>
<p class="MsoBodyText" style="margin-bottom:6pt;"><strong><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;color:black;" lang="SV">Pada skenario yang ke-3</span></strong><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;color:black;" lang="SV"> (<em>dengan menetapkan perubahan fungsi lahan menjadi perkantoran dan permukiman)</em> sehingga lebih detail (lihat gambar-2), lahan akan dialihfungsikan menjadi lahan perkantoran kira-kira seperempatnya dan sisanya menjadi lahan permukiman. Koefisien lantai bangunan sesuai dengan aturan yang ditetapkan Dinas Tata Kota Semarang yaitu : untuk perkantoran ditetapkan =0,6 dan permukiman = 0,5. Sesuai dengan perhitungan skenario-2, inipun akan memberikan pengaruh kenaikan debit yang keluar dari sistem rata-rata sebesar </span><span style="font-size:10pt;font-family:Symbol;color:black;">±</span><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;color:black;" lang="SV"> 2-3 kali untuk periode ulang yang sama </span></p>
<p class="MsoBodyText" style="margin-bottom:6pt;"><strong><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;color:black;" lang="SV">7.1. Aliran Dasar</span></strong></p>
<p class="MsoBodyText" style="margin-bottom:6pt;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;color:black;" lang="SV">Akibat dari menurunnya infiltrasi pada areal, jika dialihfungsikan akan mempengaruhi besarnya aliran dasar (<em>base flow</em>). Pada umumnya <em>base flow</em> sulit ditentukan/ dihitung karena adanya keterkaitan satu sistem dengan sistem lain yang berada dalam tanah, yang tidak kita ketahui. Namun dapat dipastikan dengan berkurangnya infiltrasi akan meningkatkan kecenderungan menurunnya aliran dasar di musim kemarau dan meningkatnya besarnya debit di musim hujan. Disamping itu kapasitas tampungan lahan juga akan menurun.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:6pt;"><strong><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;color:black;" lang="SV">7.2. Kondisi Drainase Lingkungan</span></strong></p>
<p class="MsoBodyText" style="margin-bottom:6pt;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;color:black;" lang="SV">Dari hasil pengamatan kondisi drainase terutama jaringan tersier yang berada di lingkungan sekitar umumnya mempunyai kapasitas 0.125 m3/det dan pada titik outlet sebesar 0.60 m3/det. Dengan keadaan semacam ini untuk saat ini masih dinilai layak/mampu menampung besarnya debit yang lewat. Namun apabila dialihfungsikan seluruhnya, debit banjir (untuk PU-5 tahun) saluran outlet dipastikan tidak akan mampu menampung debit banjir yang lewat sehingga berada diatas  batas kapasitas saluran dan akan menyebabkan luapan di sekitar daerah tersebut.</span></p>
<p class="MsoBodyText" style="margin-bottom:6pt;"><strong><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;color:black;" lang="SV">8. Solusi Penanganan </span></strong></p>
<p class="MsoBodyText" style="margin-bottom:6pt;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;color:black;" lang="SV">Dari uraian diatas, jelaslah bahwa usaha yang harus dilakukan sebagai akibat dari perubahan fungsi lahan adalah mempertahankan “<em>ruang hidrologi</em>” dengan upaya mempertahankan nilai koefisien limpasan (c) sesuai dengan daya dukung alaminya, sehingga memperkecil limpasan permukaan, memperbesar infiltrasi dan mempertahankan ketinggian muka air tanah.</span></p>
<p class="MsoBodyText" style="margin-bottom:6pt;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;color:black;" lang="SV">Berikut ini dapat dikemukakan beberapa usulan penanganan yang berkaitan dengan upaya mempertahankan keseimbangan air tersebut.</span></p>
<p class="MsoBodyText" style="text-indent:-.25in;margin:0 0 6pt .5in;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-size:10pt;font-family:Symbol;color:black;" lang="SV">·<span style="font-family:&amp;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span><!--[endif]--><strong><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;color:black;" lang="SV">Pembatasan Proporsi Bangunan Terhadap Lahan</span></strong></p>
<p class="MsoBodyText" style="text-indent:-.25in;margin:0 0 6pt .5in;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-size:10pt;font-family:Symbol;color:black;" lang="SV">·<span style="font-family:&amp;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span><!--[endif]--><strong><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;color:black;" lang="SV">Penghijauan</span></strong></p>
<p class="MsoBodyText" style="text-indent:-.25in;margin:0 0 6pt .5in;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-size:10pt;font-family:Symbol;color:black;" lang="SV">·<span style="font-family:&amp;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span><!--[endif]--><strong><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;color:black;" lang="SV">Pembuatan Sumur Resapan</span></strong></p>
<p class="MsoBodyText" style="text-indent:-.25in;margin:0 0 6pt .5in;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-size:10pt;font-family:Symbol;color:black;" lang="SV">·<span style="font-family:&amp;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span><!--[endif]--><strong><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;color:black;" lang="SV">Pembuatan Kolam Retensi </span></strong></p>
<p class="MsoBodyText" style="text-indent:-.25in;margin:0 0 6pt .5in;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-size:10pt;font-family:Symbol;color:black;" lang="SV">·<span style="font-family:&amp;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span><!--[endif]--><strong><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;color:black;" lang="SV">Penataan Drainase Lingkungan </span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;" lang="SV">9. Arahan Konsep Pengembangan</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;" lang="SV">Dari pembahasan diatas dapat direkomendasikan suatu arahan pengembangan terhadap pengalih fungsian lapangan golf Sisingamangaraja nantinya, secara garis besar dapat diuraikan sebagai berikut :</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;" lang="SV"> </span><strong><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;" lang="SV">9.1.Lahan Permukiman serta Perdagangan dan Jasa.</span></strong></p>
<ul style="margin-top:0;" type="disc">
<li class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;" lang="SV">Pengalih fungsian tetap  mengacu terhadap rencana pengembangan      kawasan sebagai daerah/zona perdagangan dan jasa serta permukiman      perkotaan.</span></li>
<li class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;" lang="SV">Rencana tata guna lahan harus memenuhi      prosentase penggunaan 60% untuk daerah terbangun .</span></li>
</ul>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;" lang="SV"> </span><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Luasan</span></p>
<ul style="margin-top:0;" type="disc">
<li class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;" lang="SV">Luasan daerah terbangun harus terbagi dalam      60% merupakan bangunan permukiman dan perdagangan serta jasa sedangkan 40%      yang lain merupakan fasilitas umum dan social.</span></li>
<li class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;" lang="SV">Lahan permukiman, perdagangan dan jasa      menempati area seluas 8,5128 Ha ( 60% x 14,188 Ha ), dengan komposisi      lahan permukiman 75 % x 8,5126 Ha = 6,3864 Ha dan lahan untuk perdagangan      dan jasa berkisar antara 25% x 8,5128 Ha = 2,1282 Ha.</span></li>
</ul>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;" lang="SV"> </span><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;" lang="SV">9.2. Lahan Resapan</span></p>
<ul style="margin-top:0;" type="disc">
<li class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;" lang="SV">Luas kapling perunit disesuaikan dengan      kebutuhan   dan menempati area      seluas 8,5128 Ha.</span></li>
<li class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;" lang="SV">Koefisien Dasar bangunan adalah 50</span><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">%.</span></li>
<li class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;" lang="SV">Kemungkinan tambahan perkerasan diperkenankan      dan tidak lebih dari 10%.</span></li>
<li class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;" lang="SV">Luas bidang resapan 40% = 40% x 8,5128 Ha =      3,4051 Ha.</span></li>
</ul>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;" lang="SV"> </span><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;" lang="SV">9.3. Lahan Sarana dan Prasarana</span></p>
<ul style="margin-top:0;" type="disc">
<li class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;" lang="SV">Luas lahan 40% x 14, 188 Ha = 5,6752 Ha</span></li>
<li class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;" lang="SV">Dengan komposisi 25% x luas lahan permukiman      merupakan jalan lingkungan = 25% x 8,5128 Ha = 2,1282 Ha.</span></li>
<li class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;" lang="SV">Luas fasilitas umum dan social diasumsikan 0,5      Ha.</span></li>
<li class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;" lang="SV">Luasan daerah terbangun = 2,1282 Ha + 0,5 Ha =      2,6282 Ha.</span></li>
</ul>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;" lang="SV"> Dengan demikian luas bidang resapan = 5,6752 Ha – 2,6282 Ha = 3,0470 Ha.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;" lang="SV">Total luasan daerah resapan = 3,4051 Ha + 3,0470 Ha = 6,4521 Ha ( 45,48% )., luasan ini belum termasuk apabila jalan lingkungan menggunakan bahan yang dapat meresapkan air ( seperti pavingblock, dll ).</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;" lang="SV"> </span><strong><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;" lang="SV">10. Arahan Konsep Transportasi Kawasan</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;" lang="SV"> </span><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;" lang="SV">Tata Guna Lahan</span></p>
<p class="MsoBodyText"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;" lang="SV">Dari pembahasan di muka, lahan yang ada akan gifungsikan sebagai daerah permukiman kota dan daerah perdagangan dan jasa dengan rincian penggunaan sebagai berikut :</span></p>
<ul style="margin-top:0;" type="disc">
<li class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;" lang="SV">Lahan Permukiman, terdiri dari 200 unit rumah,      apabila diasumsikan jumlah anggota keluarga per unit perumahan 5 orang,      maka jumlah total penghuni adalah 1000 orang.</span></li>
<li class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Area      perdagangan, luas lahan 20.000 m2, luas bangunan adalah 0,6 x 20.000 m2 x      4 x 0,75 = 36.000 m2</span></li>
</ul>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;"> </span><strong><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Perhitungan Bangkitan Lalu Lintas .</span></strong></p>
<ul style="margin-top:0;" type="disc">
<li class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Area      Perumahan/permukiman kota</span></strong></li>
</ul>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:.5in;text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Jumlah penghuni = 1000 orang</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:.5in;text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Bangkitan</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:.5in;text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Y = 0,3912 ( X ) – 0,0406</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:.5in;text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Y = 0,3912 ( 1000 ) – 0,0406</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:.5in;text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Y = 301,16 smp/jam</span></p>
<ul style="margin-top:0;" type="disc">
<li class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Area      Perdagangan dan Jasa.</span></strong></li>
</ul>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:.5in;text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Luas bangunan = 36.000 m2</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:.5in;text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Bangkitan =</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:.5in;text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Y = 18,229 X<sup>0,5251</sup></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:.5in;text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Y = 18,229 x 3600<sup>0,5251</sup></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:.5in;text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Y= 4500,67 smp/hari</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:.5in;text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Y= 450,07 smp/jam </span></p>
<h6><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Bangkitan lalu lintas total = 391,16 + 450,07 = 841,23 smp/jam</span></h6>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;"> </span><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;" lang="SV">Analisis Kinerja Luas Jalan</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;" lang="SV">Nama Jalan = Jl. </span><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Sisingamangaraja</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Kapasitas Jalan = 2793 smp/jam</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Lalu lintas eksisting = 80 smp/jam</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Lalu lintas akibat pengembangan SGC = 841,23 smp/jam</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;" lang="SV">Lalu lintas total = 80 + 841,23 = 921,23 smp/jam</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;" lang="SV">Derajat kejenuhan ( v/c ratio ) = 921,23/2793 = <strong>0,329 &lt; 0,85</strong></span></p>
<p class="MsoBodyText"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;" lang="SV"> Dari nilai v/c ratio yang terjadi terlihat bahwa ruas jalan Sisingamangaraja masih dapat menampung lalu lintas eksisting ditambah dengan yang dibangkitkan oleh pengembangan kawasan SGC.</span></p>
<p class="MsoBodyText"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;" lang="SV"> </span><strong><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Rekomendasi yang diusulkan adalah :</span></strong></p>
<ul style="margin-top:0;" type="disc">
<li class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;" lang="SV">Belum perlu dilakukan penanganan pada ruas      jalan Sisingamangaraja</span></li>
<li class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;" lang="SV">Didaerah pintu masuk/keluar perlu diupayakan      adanya pengaturan untuk lebih menjamin kelancaran arus lalu lintas baik      yang masuk dan keluar kawasan.<strong> </strong></span></li>
</ul>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;" lang="SV"> 11. Arahan Konsep Tata Hijau</span></strong></p>
<h1 style="margin-left:0;"><strong><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;" lang="SV">Analisa Vegetasi/pohon</span></strong></h1>
<ul style="margin-top:0;" type="disc">
<li class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Luas      lahan = 20.000 m<sup>2</sup></span></li>
<li class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Jenis      Vegetasi /pohon : Cemara, Mahoni, Filicium &amp; Ketapang.</span></li>
<li class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;" lang="SV">Estimasi total luasan terbuka setelah proyek =      6,45 ha (45,48 %)</span></li>
</ul>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;" lang="SV"> Berdasarkan hasil survey lapangan untuk kondisi saat ini dan prediksi pengurangan jumlah pohon akibat proyek, maka kualitas lingkungan dari komponen vegetasi dapat tercermin melalui Indeks</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:.5in;text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;" lang="SV">Nilai SDR untuk kondisi saat ini sedikit diatas rata – rata (nilai 35), namun setelah proyek dilaksanakan nilai SDR akan mengalami penurunan, sehingga dibawah standard baku mutu lingkungan. Penyebab utama penurunan nilai kerapatan relatif akibat penebangan pohon.<strong></strong></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;" lang="SV">Rekomendasi :</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:.5in;text-align:justify;text-indent:-.25in;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-size:10pt;font-family:Symbol;" lang="SV">·<span style="font-family:&amp;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span><!--[endif]--><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;" lang="SV">Untuk mempertahankan kualitas lingkungan, maka nilai SDR harus dipulihkan kembali seperti kondisi saat ini (sebelum proyek) dengan mengganti pohon – pohon yang ditebang dengan pohon baru.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:.5in;text-align:justify;text-indent:-.25in;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-size:10pt;font-family:Symbol;" lang="SV">·<span style="font-family:&amp;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span><!--[endif]--><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;" lang="SV">Dengan asumsi pohon pengganti (bibit) berdiameter 2,5 Cm, maka direkomendasikan jumlah penggantian pohon yang ditebang adalah sebagai berikut :</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:1in;text-align:justify;text-indent:-.25in;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-size:10pt;font-family:Wingdings;" lang="SV">Ø<span style="font-family:&amp;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span><!--[endif]--><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;" lang="SV">Pohon diameter &gt; 20 Cm diganti dengan 3 buah bibit pohon.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:1in;text-align:justify;text-indent:-.25in;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-size:10pt;font-family:Wingdings;" lang="SV">Ø<span style="font-family:&amp;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span><!--[endif]--><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;" lang="SV">Pohon diameter 10 &#8211; 20 Cm diganti dengan 2 buah bibit pohon.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:1in;text-align:justify;text-indent:-.25in;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-size:10pt;font-family:Wingdings;" lang="SV">Ø<span style="font-family:&amp;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span><!--[endif]--><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;" lang="SV">Pohon diameter &lt; 10 Cm diganti dengan 1 buah bibit pohon.</span></p>
<p class="MsoHeading7"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;" lang="SV"> </span><strong><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;" lang="SV">12. KESIMPULAN </span></strong></p>
<p class="MsoBodyText" style="margin-left:.5in;text-indent:-.25in;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;color:black;" lang="SV"> 1.<span style="font-family:&amp;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span><!--[endif]--><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;color:black;" lang="SV">Jika lahan dialihfungsikan, fungsi lapangan golf sebagai “hutan” kota kemungkinan besar <strong><em>tidak akan tergantikan. </em></strong>Karena tanaman yang ada sekarang dapat menghasilkan dan meningkatkan kadar oksigen di sekitar lingkungan yaitu dengan menangkap karbon dioksida dan mengubahnya menjadi oksigen sehingga udara di sekitar lingkungan menjadi sejuk.</span></p>
<p class="MsoBodyText" style="margin-left:.5in;text-indent:-.25in;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;color:black;" lang="SV">2.<span style="font-family:&amp;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span><!--[endif]--><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;color:black;" lang="SV">Dari hasil perhitungan debit dengan metode rasional didapatkan besarnya debit yang berasal dari area lapangan kondisi eksisting adalah sebesar Q2th =0.223 m<sup>3</sup>/det.,  Q5th =0.291 m<sup>3</sup>/det, Q10th =0.336 m<sup>3</sup>/det. Kapasitas saluran eksisting masih mampu menampung aliran air yang menuju titik outlet di Kali Juweh.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:.5in;text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;color:black;">Pengalihfungsian hendaknya memperhatikan hal-hal sebagai berikut  :</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:.75in;text-align:justify;text-indent:-.25in;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-size:10pt;font-family:Symbol;color:black;">·<span style="font-family:&amp;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span><!--[endif]--><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;color:black;">Seandainya lahan dialihfungsikan untuk peruntukan yang lain. Jika lahan seluruhnya dialihfungsikan menjadi kawasan permukiman /perdagangan, akan meningkatkan besarnya debit yang keluar dari outlet dengan peningkatan sekitar 4-5 kali dari kondisi eksisting</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:.75in;text-align:justify;text-indent:-.25in;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-size:10pt;font-family:Symbol;color:black;">·<span style="font-family:&amp;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span><!--[endif]--><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;color:black;">Perubahan peruntukan dari lapangan terbuka menjadi pemukiman akan  mengakibatkan naiknya curah hujan sebesar 5-10%.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:.75in;text-align:justify;text-indent:-.25in;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-size:10pt;font-family:Symbol;color:black;">·<span style="font-family:&amp;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span><!--[endif]--><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;color:black;">Apabila sebagian saja dari lahan yang dialihfungsikan tetap memberikan pengaruh yang cukup terhadap peningkatan debit banjir rata-rata sebesar </span><span style="font-size:10pt;font-family:Symbol;color:black;">±</span><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;color:black;"> 2-3 kali untuk periode ulang yang sama</span></p>
<p class="MsoBodyText" style="margin-left:.75in;text-indent:-.25in;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-size:10pt;font-family:Symbol;color:black;">·<span style="font-family:&amp;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span><!--[endif]--><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;color:black;">Akibat dari menurunnya infiltrasi pada areal, jika dialihfungsikan akan mempengaruhi besarnya aliran dasar (<em>base flow</em>). dapat dipastikan akan meningkatkan kecenderungan menurunnya aliran dasar di musim kemarau dan meningkatnya besarnya debit di musim hujan. Disamping itu kapasitas tampungan lahan juga akan menurun.</span></p>
<p class="MsoBodyText" style="margin-left:.5in;text-indent:-.25in;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;" lang="SV"> 3.<span style="font-family:&amp;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span><!--[endif]--><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;" lang="SV">Alternatif Penanganan yang perlu dipertimbangkan adalah :</span></p>
<p class="MsoBodyText" style="margin-left:1in;text-indent:-.25in;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-size:10pt;font-family:Symbol;">·<span style="font-family:&amp;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span><!--[endif]--><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Pembatasan proporsi bangunan terhadap lahan</span></p>
<p class="MsoBodyText" style="margin-left:1in;text-indent:-.25in;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-size:10pt;font-family:Symbol;">·<span style="font-family:&amp;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span><!--[endif]--><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Pengembangan harus tetap memperhatikan penghijauan.</span></p>
<p class="MsoBodyText" style="margin-left:1in;text-indent:-.25in;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-size:10pt;font-family:Symbol;">·<span style="font-family:&amp;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span><!--[endif]--><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Pembuatan Sumur Resapan</span></p>
<p class="MsoBodyText" style="margin-left:1in;text-indent:-.25in;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-size:10pt;font-family:Symbol;">·<span style="font-family:&amp;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span><!--[endif]--><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Pembuatan kolam retensi</span></p>
<p class="MsoBodyText" style="margin-left:1in;text-indent:-.25in;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-size:10pt;font-family:Symbol;">·<span style="font-family:&amp;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span><!--[endif]--><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Penataan drainase lingkungan</span></p>
<p class="MsoBodyText" style="margin-left:.5in;text-indent:-.25in;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;" lang="SV"> 4.<span style="font-family:&amp;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span><!--[endif]--><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;" lang="SV">Arahan konsep transportasi kawasan direkomendasikan :</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:.75in;text-align:justify;text-indent:-.25in;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-size:10pt;font-family:Symbol;" lang="SV">·<span style="font-family:&amp;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span><!--[endif]--><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;" lang="SV">Belum perlu dilakukan penanganan pada ruas jalan Sisingamangaraja</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:.75in;text-align:justify;text-indent:-.25in;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-size:10pt;font-family:Symbol;" lang="SV">·<span style="font-family:&amp;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span><!--[endif]--><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;" lang="SV">Didaerah pintu masuk/keluar perlu diupayakan adanya pengaturan untuk lebih menjamin kelancaran arus lalu lintas baik yang masuk dan keluar kawasan.</span></p>
<p class="MsoBodyTextIndent2" style="margin-left:.5in;text-indent:-.25in;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;"> 5.<span style="font-family:&amp;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span><!--[endif]--><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Arahan konsep penataan tata hijau dan vegetasi direkomendasikan :</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:.75in;text-align:justify;text-indent:-.25in;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-size:10pt;font-family:Symbol;">·<span style="font-family:&amp;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span><!--[endif]--><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Untuk mempertahankan kualitas lingkungan, maka nilai SDR harus dipulihkan kembali seperti kondisi saat ini (sebelum proyek) dengan mengganti pohon – pohon yang ditebang dengan pohon baru.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:.75in;text-align:justify;text-indent:-.25in;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-size:10pt;font-family:Symbol;" lang="SV">·<span style="font-family:&amp;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span><!--[endif]--><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;" lang="SV">Dengan asumsi pohon pengganti (bibit) berdiameter 2,5 Cm, maka direkomendasikan jumlah penggantian pohon yang ditebang adalah sebagai berikut :</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:1in;text-align:justify;text-indent:-.25in;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-size:10pt;font-family:Wingdings;" lang="SV">Ø<span style="font-family:&amp;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span><!--[endif]--><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;" lang="SV">Pohon diameter &gt; 20 Cm diganti dengan 3 buah bibit pohon.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:1in;text-align:justify;text-indent:-.25in;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-size:10pt;font-family:Wingdings;" lang="SV">Ø<span style="font-family:&amp;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span><!--[endif]--><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;" lang="SV">Pohon diameter 10 &#8211; 20 Cm diganti dengan 2 buah bibit pohon.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:1in;text-align:justify;text-indent:-.25in;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-size:10pt;font-family:Wingdings;" lang="SV">Ø<span style="font-family:&amp;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span><!--[endif]--><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;" lang="SV">Pohon diameter &lt; 10 Cm diganti dengan 1 buah bibit pohon.</span></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/senthong.wordpress.com/57/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/senthong.wordpress.com/57/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/senthong.wordpress.com/57/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/senthong.wordpress.com/57/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/senthong.wordpress.com/57/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/senthong.wordpress.com/57/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/senthong.wordpress.com/57/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/senthong.wordpress.com/57/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/senthong.wordpress.com/57/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/senthong.wordpress.com/57/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/senthong.wordpress.com/57/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/senthong.wordpress.com/57/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/senthong.wordpress.com/57/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/senthong.wordpress.com/57/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=senthong.wordpress.com&amp;blog=9177900&amp;post=57&amp;subd=senthong&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://senthong.wordpress.com/2009/11/11/lapangan-golf-sisingamangaraja-dan-kebijakan-tukar-guling-2/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/f7628bd0e393df78ca5aea3482042ac7?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">senthong</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Pentingnya Penguasaan Sketsa dan CAD dalam Dunia Kerja Jasa Konsultansi</title>
		<link>http://senthong.wordpress.com/2009/09/02/pentingnya-penguasaan-sketsa-dan-cad-dalam-dunia-kerja-jasa-konsultasi/</link>
		<comments>http://senthong.wordpress.com/2009/09/02/pentingnya-penguasaan-sketsa-dan-cad-dalam-dunia-kerja-jasa-konsultasi/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 02 Sep 2009 05:43:15 +0000</pubDate>
		<dc:creator>senthong</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://senthong.wordpress.com/?p=41</guid>
		<description><![CDATA[Perkembangan teknologi komputer, khususnya dalam dunia arsitektur sangat pesat, baik dari segi perangkat keras, perangkat lunak ataupun jasa pelayanannya. Peranan komputer dalam usaha jasa konsultansi sampai akhir tahun 1990-an baru terbatas pada konsultan-konsultan besar tetapi kondisi saat ini penggunaannya hampir merupakan kebutuhan utama bahkan pada arsitek perseorangan. Salah satu teknologi computer yang diterapkan dibidang arsitektur [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=senthong.wordpress.com&amp;blog=9177900&amp;post=41&amp;subd=senthong&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img class="aligncenter size-medium wp-image-51" title="bang-senthong-01" src="http://senthong.files.wordpress.com/2009/09/bang-senthong-01.jpg?w=300&#038;h=247" alt="bang-senthong-01" width="300" height="247" /></p>
<p>Perkembangan teknologi komputer, khususnya dalam dunia arsitektur sangat pesat, baik dari segi perangkat keras, perangkat lunak ataupun jasa pelayanannya. Peranan komputer dalam usaha jasa konsultansi sampai akhir tahun 1990-an baru terbatas pada konsultan-konsultan besar tetapi kondisi saat ini penggunaannya hampir merupakan kebutuhan utama bahkan pada arsitek perseorangan. Salah satu teknologi computer yang diterapkan dibidang arsitektur adalah <em>Computer Aided Design</em> ( CAD ), penggunaannya dianggap sebagai alat bantu gambar yang mentransfer pekerjaan di atas meja gambar ke layar monitor.</p>
<p>Kemajuan komputer dan CAD pada khususnya harus diakui membawa kemudahan dalam menghasilkan produk gambar dengan teknis yang baik dan memberi banyak kemudahan serta keuntungan dalam dunia jasa konsultansi, tetapii hanya sebagian yang dapat dievaluasi dengan mudah, sebagian lainnya merupakan keuntungan yang tak terukur secara kuantitatif, seperti peningkatan kualitas pekerjaan, informasi akurat dan pengaturan yang lebih baik. Hal ini tentunya membawa perubahan pada kurikulum pengajaran pada dunia pendidikan , khususnya sekolah kejuruan dan keteknikan, yaitu dengan mencantumkan CAD sebagai mata kuliah wajib atau pilihan, sebagai tambahan muatan ataupun pengganti pelajaran menggambar arsitektur.</p>
<p>Dalam dunia jasa konsultansi, CAD telah membuktikan diri sebagai alat disain dan perencanaan produk yang baik, begitu selesai, gambar-gambar CAD dapat direvisi dengan mudah, diubah, diperbaiki, dicetak atau dibuat salinannya dalam waktu yang relative singkat. Keuntungan utama adalah dalam hal ketepatan, kemampuan disain, kualitas gambar serta dokumentasi yang tinggi, sementara kesuksesan dan kegagalan dalam memanfaatkannya, umumnya tidak disebabkan oleh teknologi CAD yang ada, tetapi lebih ditentukan oleh bagaimana menejemen dan pengelolaan pemanfaatan CAD tersebut dilakukan.</p>
<p>Pada perkembangannya saat ini didunia pendidikan dan dunia kerja/ jasa konsultansi terdapat beberapa pandangan yang keliru terhadap pemakaian CAD karena dianggap setelah membeli system CAD berarti membeli kecerdasan dan konsultan disain dan manfaat CAD akan dicapai secara optimal. Sedangkan terhadap produk yang dihasilkan dirasakan adanya kesenjangan kualitas disain dari pemakainya. Kenyataan menunjukkan apabila pemakai CAD mempunyai kemampuan sketsa/freehand drawing atau dasar-dasar menggambar tangan yang baik akan menghasilkan produk yang lebih baik jika dibandingkan dengan pemakai yang kurang//tidak mempunyai kemampuan gambar tangan yang baik, hal ini mengartikan bahwa CAD disini hanya berfungsi sebagai alat untuk membantu mewujudkan rancangan. Disisi lain  produk yang dihasilkan dalam setiap tahapan pekerjaan dalam jasa konsultansi tidak semuanya tepat untuk menggunakan CAD, sebaliknya juga tidak semuanya tepat menggunakan  <em>freehand drawing</em>/sketsa,</p>
<p>Dengan demikian akan menarik untuk mengerti produk-produk dalam tiap tahapan pekerjaan  jasa konsultasi yang mana paling tapat digunakan system CAD dan yang mana cocok menggunakan sketsal/<em>freehand</em> drawing .</p>
<p>Harapannya dengan membandingkan keduanya akan memberikan masukan pada dunia pendidikan yang nantinya akan menghasilkan tenaga-tenaga professional di bidang keteknikan, khusunya arsitektur dalam menata kembali kurikulum pendidikannya</p>
<p>Kata kunci<strong><em> : sketsa tangan, cad dan produk perancangan jasa konsultansi.</em></strong></p>
<p><span id="more-41"></span></p>
<p><strong>PENGANTAR</strong></p>
<p>Pentingnya penguasaan Computer Aided Drafting ( CAD ) dan sketsa/freehand drawing terhadap kualitas produk perencanaan dan perancangan dalam dunia kerja konsultan perencana ini akan memperhatikan dua gatra. Gatra pertama, adalah penggunaan CAD dan freehand drawing dan kedua, adalah kualitas produk perancangan.</p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>Sketsa/Frehand Drawing dan Terapannya</strong></p>
<p>Gambar freehand atau menggambar tangan bebas untuk membuat skesta secara cepat dalam memvisulisasikan suatu obyek ataupun gambar – gambar teknik sering dilakukan oleh orang – orang yang terlibat pada suatu pekerjaan tertentu dan apabila diperhatikan produk gambar yang dihasilkan masing – masing tidak sama antar satu dengan yang lain.</p>
<p>Kemampuan gambar dan bakat seseorang amat berhubungan, artinya semakin baik bakat seseorang dalam menggambar akan semakin mudah mengembangkan teknis penguasaan gambar dalam memvisulaisaikan suatu obyek, tetapi bukan berarti yang kurang berbakat dalam menggambar tidak dapat mempelajarinya. Teknis menggambar dapat dipelajari walaupun hasil yang didapatkan tidak dapat optimal. Hal ini dat dilihat pada dunia pendidikan kejuruan kita. Freehand pada masa pendidikan, teknis menggambar tangan bebas selalu diberikan pada kurikulum sekolah – sekolah kejuruan dalam porsi yang cukup, hal ini menunjukan bahwa freehand atau menggambar tangan bebas amat penting sebagai bekal yang harus dikuasai para lulusanya. Untuk maksud terebut kerapkali dalam menerima anak didik dilakukan test kemampuan gambar.</p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>Penguasaan Teknis Sketsa/Freehand Drawing</strong></p>
<p>Freehand drawing atau gambar tangan berdasarkan tujuannya dapat dibedakan menjadi tiga bagian, yaitu Sketsa, gambar presentasi, gambar teknik.</p>
<p>Untuk dapat membuat gambar dengan baik perlu diperhatikan beberapa prinsip dasar dengan cara – cara menghasilkan gambar yang baik. Umumnya seseorang perancang harus memperlajari tata cara menggambar lebih cepat dari yang lain , tetapi memang mereka harus menguasai prinsip / tata cara menggambar dan mempraktekannya supaya memiliki keahlian tersebut. Prinsip / tata cara yang dimaksud adalah :</p>
<p><strong>1. </strong><strong>Komposisi</strong></p>
<p><strong>Kesatuan</strong></p>
<ul>
<li>Diperlukan pengaturan antara obyek utama dan obyek penunjang</li>
<li>Obyek Utama harus menempati bagian terbesar dari sketsa tersebut, sehingga tampak sebagai bagian terpenting dan memerlukan perhatian khusus</li>
</ul>
<p><strong>Tekanan</strong></p>
<ul>
<li>Pemberian rendering yang cermat dan kontras yang baik dengan memperhatikan arah sinar merupakan cara tepat untuk menghadirkan tekanan.</li>
</ul>
<p><strong>Keseimbangan</strong></p>
<ul>
<li>Pengaturan obyek utama gambar dan penunjangan dengan memberikan penekanan yang sesuai</li>
</ul>
<p><strong>Proporsi</strong></p>
<ul>
<li>Bentuk obyek gambar menentukan format dan kedudukan kertas gambar<strong> </strong></li>
</ul>
<p><strong>Sudut Pandang</strong></p>
<ul>
<li>Setiap bagian dari obyek gambar tidak sama menariknya. Perspektif 3 dimensi lebih mudah dimengerti.</li>
</ul>
<p><strong>Kesan 3 dimensi</strong></p>
<ul>
<li>Kontras</li>
<li>Naung dan Bayangan</li>
</ul>
<p><strong> </strong><strong>Elemen – elemen Penunjang</strong></p>
<ul>
<li>Imaginasi suasana akan terlihat</li>
<li>Faktor Pembanding atau skala</li>
</ul>
<p>Dengan menguasai teknis penggambaran di atas diharapkan seseorang dapat memvisualisasikan suatu obyek gambar dengan benar dan tepat, sehingga pembaca gambar dapat mengerti dan memahami dengan tepat pula.</p>
<p>Keberhasilan teknis penggambaran di atas dapat dicapai dengan ataupun tanpa alat Bantu ( computer dan freehand ) tetapi faktor manusia yang mengopersikan atau menciptakan gambar tesebut amat dominant disini.</p>
<p><strong>Gambar freehand dapat dilakukan dengan teknik pencil dan tinta</strong>,</p>
<p>kedua teknis penyelesaian ini mempunyai kelebihan dan kekurangan masing – masing. Teknik menggambar dengan pencil jarang digunakan sebagai gambar presentasi, tetapi akan membantu seorang perencana dalam membuat sketsa secara tepat, keuntungan yang lain adalah kemungkinan yang besar untuk memberikan perbedaan nada ( tone ) sehingga memperkuat kesan tiga dimensinya. Sedangkan teknik tinta sering digunakan dalam mempresentasikan gambar.</p>
<p><strong>Computer Aided Design ( CAD )</strong></p>
<p>Disisi lain CAD difungsikan untuk menggantikan fungsi pencil, pena, kertas dan drafter, hal ini tentu saja didukung dengan peralatan computer. ( Krisnamoorthy, 1991 ). Aspek positif CAD dapat dipaparkan sbb :</p>
<ul>
<li>Sistem CAD dapat membebaskan drafter atau      arsitek perencana dari kesalahan yang sering terjadi pada proses      penggambaran secara manual</li>
<li>CAD dapat diprogram pada awal penggunaannya      dan dapat disesuaikan dengan kebutuhan pengguna, sehingga dapat membantu      menyelesaikan pekerjaan lebih cepat dan menambah keakuratan dalam      penggambaran.</li>
<li>Bagaimanapun      CAD adalah suatu alat bantu dengan kemampuan dan kecepatan yang tinggi, perubahan      dan perbaikan kesalahan akan dengan cepat dapat dilakukan. Hal      ini tentunya memberikan nilai ekonomis pada perubahan dalam melakukan      persiapan penyajian gambar.</li>
</ul>
<p>Keuntungan potensial yang diperoleh dengan menggunakan system CAD ( Satrio Sumantri, 1989 ) adalah :</p>
<ol>
<li>Peningkatan produktifitas, tergantung pada      rincian rancangan( makin rinci, maka produktifitas makin meningkat),      Tingkat simetri gambar rancangan (makin banyak bagian simetri, makin      tinggi produktifitas ), besar kecilnya data  dan tingkat kerumitan gambar ( makin      rumit, makin tinggi produktifitasnya )</li>
<li>Waktu Produksi lebih singkat, system CAD yang      interaktif akan mempercepat proses pembuatan gambar atau model.</li>
<li>Analisis terhadap hasil rancangan, system CAD      mempunyei kemampuan analisis, proses perancangan dan analisa dapat      dilakukan dengan system yang sama.</li>
<li>Rancangan yang lebih baik, Dalam perancangan      dapat dilakukan perubahan sehingga terdapat alternative rancangan dengan      cepat.</li>
<li>Pengurangan kesalahan, system CAD yang      interaktif dapat mengurangi kesalahan yang terjadi dalam proses      perancangan, penggambaran dan Penyusunan dokumentasi. Dalam system CAD tak      diperlukan lagi pengolahan informasi secara manual setelah gambar awal      selesai dibuat.</li>
<li>Peningkatan ketelitian. Dengan sistim CAD      pengontrolan dimensi akan jauh lebih teliti. Sistem CAD akan memberikan      rancangan kurva ruang (3 dimensi ) yang jauh lebih teliti daripada      rancangan secara manual.</li>
<li>Memudahkan dalam perencanaan perkakas. Dengan      adanya kemampuan untuk melakukan pandangan dari berbagai sudut oleh sistim      CAD maka akan memudahkan dalam memilih dan merencanakan perkakas.</li>
<li>Pengendalian prosedur perubahan teknis,      dengan sistim CAD maka pengendalian prosedur perubahan dapat dilakukan      dengan baik. Gambar – gambar dan dokumen asli disimpan dalam basis data sistim      CAD. Hal ini akan memudahkan dalam melakukan pengecekan jika terjadi      perubahan atau modifikasi.</li>
<li>Gambar lebih mudah dimengerti, dengan      menggunakan sistim CAD maka benda kerja dapat digambarkan secara isomentri      dan dapat diberi warna atau bayangan sedemikian rupa sehingga tampak      komprehensif.</li>
<li>Penyiapan      dokumen, sistim CAD yang lengkap dapat memproduksi <em>bill of materials</em> dalam format tertentu. Hal ini akan      mempersingkat proses penyiapan dokumen maupun spesifikasi teknis.</li>
</ol>
<p>Pada masa lalu, waktu untuk memperbaiki gambar dalam suatu perusahaan adalah priorotas utama. Pada penggambaran dengan cara manual, Voisinet ( 1987 ), dalam hasil penelitiannya menyatakan dua per tiga waktunya dihabiskan untuk membolak – balik gambar perencanaan, sedangkan sepertiga waktunya untuk mengerjakan disain. Pemakaian CAD merubah semuanya itu. Gambar dan perubahan disain dapat dilakukaan dengan lebih baik, yang nantinya akan berhubungan dengan kebutuhan secara keseluruhan.</p>
<p>Disamping aspek kecepatan, CAD juga menyediakan teknik dasar yang dapat dikembangkan oleh pengguna. Pembuatan garis dan huruf tidak harus terus menerus dilakukan. CAD menghindarkan dari pekerjaan yang menjemukan dan berulang. CAD memacu kretafitas untuk menuangkan ide dalam gambar.</p>
<p><strong>Aspek Negatif Sistim CAD</strong></p>
<p>Aspek negative disini yang dimaksudkan adalah kerugian waktu, yang terjadi apabila :</p>
<ul>
<li>Terjaadi      overload dalam penggunaan</li>
<li>Tidak terbiasa sehingga mengalami kesukaran      dalam penggunaan sistim</li>
<li>Terdapat      komponen computer yang rusak</li>
<li>Waktu      yang terbuang untuk memperbaiki computer apabila terjadi kerusakan.</li>
</ul>
<p>Disamping ini pengaruh penggunaan layar monitor kepada pemakai, karena sebagaimana telah dijelaskan, sistim layar monitor tersebut menggunakan standart televisi. Sehingga pengaruh radiasi ataupun emisi pada mata pemakai kemungkinan terjadi. Pada perkembangannya hal ini dapat dieliminir dengan menggunakan monitor yang telah dirancangan khusus. ( khrisna Moorthy, 1991 ).</p>
<p><strong>Efek Sosial Sistim CAD</strong></p>
<p>Aspek sosial CAD dapat menghilangkan sifat ketidak pedulian. CAD dapat membuat perubahan dari papan gambar tradisional ke monitor tanpa harus mengalami berbagai kefrustasian, karena adanya perasaan ketakutan dan ketidak tahuan.</p>
<p>Perhatian mendalam akan datang sebagai akibat dari cara kerja dalam kehidupan pemakai, karena pada dasaranya sebagaian besar manusia akan menyaring setiap perubahan yang terjadi. Untuk membantu sistim CAD selalu actual, para pembuat telah mempersiapkan CAD agar dapat parallel dengan sistim – sistim baru. Sedangkan metode tradisional tidak mengalami perubahan.</p>
<p><strong>Permasalahan dalam menggunakan CAD</strong></p>
<p>Berikut ini akan dibahas tentang permasalahan yang telah dialami oleh beberapa pengguna CAD dalam membantu proses pelaksanaan pekerjaan masing – masing, sebagai bahan pertimbangan dalam memberikan penilaian terhadap  penggunaan CAD saat ini.</p>
<p>Purwanto ( 1993 ) menyatakan bahwa permasalahan yang terjadi dalam penerapannya dapat dikemukakan sebagai berikut :</p>
<ul>
<li>Masa      transisi, diperlukan masa transisi pada awal penggunaan sistim CAD sebagai      pengganti cara manual. Banyak resiko yang harus ditanggung  : kemampuan penggambaran menurun,      keterlambatan proyek, dan cost yang sangat melonjak. Masa      transisi dari konsultan / pengguna CAD dapat digambarkan sebagaimana      berikut ini :</li>
</ul>
<ol>
<li> Hardware, harga tinggi dengan siklus      perkembangan yang sangat pesat dan persaingan dalam dunia bisnis komputer      sehingga menyebabkan computer yang telah terbeli cepat menjadi usang /out      of date.</li>
<li>Software,      dengan meningkatkan skill dan meningkatnya kebutuhan untuk melayani      berbagai macam proyek, maka menyebabkan software yang ada akan terasa      kurang fleksibel lagi dan perlu updating.</li>
<li>Training,      pada tingkat tertentu akan menjadi jenuh dan mendekati titik asimtotis      yang sudah sulit untuk meningkatakan produktifitas dengan software yang      dimiliki sekarang, sehingga updating dan training akan memberikan      penyegaran dan menambahkan kreatifitas pemakai.</li>
<li>Filing,      banyak kendala yang dihapadi dari segi filling karena tidak terdapat satu      vendorpun yang memikirkan bagaimana sulitnya menangani sitim filling ini.</li>
<li>Dokumentasi,      harus dilakukan secara baik agar dapt dipergunakan oleh pemakai lainnya      seperti, nama – nama file gambar terdaapt dalam cartage ataupun      dokumentasi mengenai simpanan symbol – symbol library dan software –      software, aplikasi yang telah dibuat.</li>
</ol>
<p>Permasalah yang lain,oleh Boediono Soerasno ( 1989 ), dikemukan antara lain adalah adanya informasi tentang produk yang sangat kurang, terutama dari vendors yang mempunyai produk yang tepat untuk perusahaan pemakai.</p>
<p>Dalam penggunaan cara manual tradisional, tidak dirasakan perlunya untuk membuat suatu dokumentasi dan evaluasi tentang produktivitas, sehingga pada waktu mulai memakai sistim CAD, sulit untuk mengadakan perbandingan yang padan.</p>
<p>Dari uraian diatas maka jelaslah bahwa diperlukan masa transisi bagi penggunaan system CAD sebagi pengganti sistim manual, dimana pada masa transisi ini biaya produksi akan meningkat, sehingga diperlukan persiapan sebelumnya. Dalam penggunaannya sebagai alat bantu proses perancangan, tidak semua pekerjaan penggambaran lebih dilakukan dengan CAD. Kunci sukses dalam menerapakn system CAD disamping tergantung pada kemampuan pengguna dalam mengguasai sistim ini dan kemampuan dari perlatan computer yang ada juga amat diperlukan manajemen pemakaian yang baik.</p>
<p>Dengan demikian dalam pemilihan peralatan computer hendaknya disesuaikan dengan jenis pekerjaan ataupun lingkup pekerjaan yang akan ditangani.</p>
<p><strong>Freehand Drawing dan CAD dalam Tahapan Pelaksanaan Pekerjaan</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p>Freehand drawing dan CAD dalam Dunia Kerja konsultansi, pelaksanaan pekerjaan diawali dengan pekerjaan membuat studi kelayakan, proposal disain, pra – rencana, gambar detail engineering/ DED, penyiapan dokumen lelang, pelaksanakan dan as built drawing.</p>
<p>Dari tiap tahapan pelaksanaan pekerjaan tersebut peran freehand drawing dan CAD cukup besar. Hal terebut dapat dilihat pada diagram dibawah ini.</p>
<p>Dari pembahasan diatas dapat ditunjukan bahwa peranan freehand drawing dan CAD sama-sama diperlukan disetiap tahapan pelaksanaan pekerjaan konsutlan perencana, tentunya dalam porsi yang berbeda pada masing – masing konsultan.</p>
<p><strong>Pada tahapan studi kelayakan</strong>, penekanan pada kelayakan proyek yang akan direncanakan yang ditinjau dari aspek fisiologi, sosialogi, ekonomi dan regulasi.</p>
<p>Freehand drawing dan CAD sama diperlukan dalam menyampaikan gagasan/ ide, berupa sketsa dan gambar pendukung.</p>
<p><strong>Pada tahapan proposal disain</strong>, penekanan pada pengembangan ide / gagasan dan konsep – konsep – konsep perancangan.</p>
<p>Gambar freehand diperlukan dalam menyampaikan usulan disain tersebut dan biasanya diperjelas dengan sketsa – sketsa pendukung. Penggunaan CAD lebih tepat untuk memberikan gambaran yang lebih visual dari obyek yang digagas.</p>
<p><strong>Pada tahapan pra rencana</strong>, penekanan pada pengembangan disain yang berupa gambar denah, tampak, potongan dan perspektif.</p>
<p>Gambar freehand diperlukan dalam membuat sketsa – sketsa pengembangan gagasan hingga untuk menjelaskan gagasan baik kepada owner ataupun dafter/ operator di studio. Sedangkan CAD lebih dominant pada pembuatan produk akhir tahap ini.</p>
<p><strong>Pada penyusunan Gambar Detail atau Gambar Kerja</strong>, penekanan pada penggambaran teknis secara terukur dan gambar freehand diperlukan dalam memberikan penjelasan detail disain terutama pada kegiatan intern dalam konsultan perencana ataupun kepada owner, sedangkan CAD lebih dominant pada pembuatan produk akhir tahap ini.</p>
<p><strong>Pada tahapan penyusunan dokumen lelang</strong>, yang berupa Dokumen Gambar kerja, Rencana dan Syarat – syarat ( RKS ) serta Rencana Anggaran Biaya ( RAB ). Gambar freehand tetap diperlukan untuk memberikan sketsa – sketsa penjelas pada penghitungan volume dan spesifikasi teknis dari pekerjaan yang akan dilakukan. Peran CAD pada tahap ini lebih dominant tarhadap proses penyusunan dan hasil akhirnya.</p>
<p><strong>Tahapan pelaksanaan</strong>, pada tahapan ini fungsi konsultan perencana memberikan pengawasan berkala dan memberikan penjelasan Gambar Kerja serta teknis pelaksanaan dilapangan.</p>
<p>Gambar freehand dan CAD sama-sama diperlukan untuk menjelaskan gambar, yang berupa sketsa – sketsa detail.</p>
<p><strong>Tahapan As Built Drawing</strong>, menekankan pada perubahan gambar – gambar perencanaan yang disesuaikan dengan kondisi dan kebutuhan di lapangan, berupa gambar / sketsa pendukung untuk menjelaskan perubahannya.CAD lebih dominan pada pematangan hasil akhir pembuatan gambar as built drawing.</p>
<p>Dalam penjelasan di atas menunjukan bahwa gambar freehand dan CAD sama-sama berperan pada setiap tahapan kegiatan, Freehand drawing amat berperan dalam membuat sketsa – sketsa cepat dari rancangan ataupun gambar pendukungnya sedangkan CAD lebih dominant dalam produk akhirnya dari setiap tahap kegiatan dalam konsultan perencana. Untuk itu kiranya diperlukan pengusaan teknis penggambaran baik menggunakan freehand ataupun CAD dalam upaya memaksimalkan produk setiap tahapan pekerjaan suatu konsultan perencana.</p>
<p><strong>Kesimpulan</strong></p>
<p><strong>Secara umum</strong></p>
<p>Gambar freehand diperlukan pada setiap tahapan pelaksanaan di konsultan perencana, terutama utnuk menghasilkan gambar sketsa secara cepat dan sebagai pendukung teknis penyajian, sedangkan CAD diperlukan pada setiap tahapan pelaksanaan konsultan perencana terutama pada peningkatan kualitas produk akhir setiap tahapan.</p>
<p><strong>Secara Khusus</strong></p>
<p>Fungsi dan pentingnya gambar freehand dapat diuraikan sebagai berikut :</p>
<p><strong>Penting Freehand Drawing</strong></p>
<ul>
<li>Media berfikir/ merancang</li>
<li>Ilustrasi</li>
<li>Komunikasi Presentasi</li>
<li>Rekaman Gambar</li>
</ul>
<p><strong>Fungsi Freehand Drawing</strong></p>
<p>Bagi Perancang</p>
<ul>
<li>Menerjemahkan dan mengevaluasi ide perancangan</li>
<li>Mempermudah dalam memberikan diskripsi dan penjelasan</li>
<li>Media presentasi untuk menarik perhatian dan mengangkat penampilan hasil rancangan.</li>
</ul>
<p><strong>Bagi Klien</strong></p>
<ul>
<li>Mempermudah dalam melihat hasil rancangan</li>
<li>Memudahkan evaluasi dan penyesuaian ide</li>
<li>Memberikan kesamaan fisi</li>
</ul>
<p><strong>Bagi Rekan kerja / partner</strong></p>
<ul>
<li>Menyamakan fisi</li>
<li>Mempermudahkan dalam diskusi</li>
<li>Memudahkan dalam evaluasi, refisi dan pengembangan gagasan</li>
</ul>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/senthong.wordpress.com/41/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/senthong.wordpress.com/41/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/senthong.wordpress.com/41/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/senthong.wordpress.com/41/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/senthong.wordpress.com/41/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/senthong.wordpress.com/41/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/senthong.wordpress.com/41/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/senthong.wordpress.com/41/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/senthong.wordpress.com/41/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/senthong.wordpress.com/41/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/senthong.wordpress.com/41/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/senthong.wordpress.com/41/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/senthong.wordpress.com/41/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/senthong.wordpress.com/41/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=senthong.wordpress.com&amp;blog=9177900&amp;post=41&amp;subd=senthong&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://senthong.wordpress.com/2009/09/02/pentingnya-penguasaan-sketsa-dan-cad-dalam-dunia-kerja-jasa-konsultasi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/f7628bd0e393df78ca5aea3482042ac7?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">senthong</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://senthong.files.wordpress.com/2009/09/bang-senthong-01.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">bang-senthong-01</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Kuantitas dan Kualitas Ruang Terbuka Hijau ( RTH )di permukiman Kota</title>
		<link>http://senthong.wordpress.com/2009/09/02/kuantitas-dan-kualitas-ruang-terbuka-hijau-rth-di-permukiman-kota/</link>
		<comments>http://senthong.wordpress.com/2009/09/02/kuantitas-dan-kualitas-ruang-terbuka-hijau-rth-di-permukiman-kota/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 02 Sep 2009 04:47:42 +0000</pubDate>
		<dc:creator>senthong</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://senthong.wordpress.com/?p=36</guid>
		<description><![CDATA[Wacana ini merupakan hasil diskusi dengan Ir. Sukawi, MT yang dituangkan menjadi sebuah paper. Pendahuluan Masalah perkotaan pada saat ini telah menjadi masalah yang cukup pelik untuk diatasi. Perkembangan perkotaan membawa pada konsekuensi negatif pada beberapa aspek, termasuk aspek lingkungan. Dalam tahap awal perkembangan kota, sebagian besar lahan merupakan ruang terbuka hijau. Namun, adanya kebutuhan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=senthong.wordpress.com&amp;blog=9177900&amp;post=36&amp;subd=senthong&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<table border="0" cellspacing="0" cellpadding="0" align="left">
<tbody></tbody>
</table>
<table style="height:20px;" border="0" cellspacing="0" cellpadding="0" width="13" align="left">
<tbody>
<tr>
<td width="238" height="33" bgcolor="white">
<table style="height:11px;" border="0" cellspacing="0" cellpadding="0" width="17">
<tbody></tbody>
</table>
</td>
</tr>
</tbody>
</table>
<p><em> <img class="aligncenter size-full wp-image-38" title="tk-07" src="http://senthong.files.wordpress.com/2009/09/tk-07.jpg?w=655" alt="tk-07"   /></em></p>
<p><em> Wacana ini merupakan hasil diskusi dengan Ir. Sukawi, MT yang dituangkan menjadi sebuah paper.</em></p>
<p><em> </em><strong>Pendahuluan</strong></p>
<p>Masalah perkotaan pada saat ini telah menjadi masalah yang cukup pelik untuk diatasi. Perkembangan perkotaan membawa pada konsekuensi negatif pada beberapa aspek, termasuk aspek lingkungan. Dalam tahap awal perkembangan kota, sebagian besar lahan merupakan ruang terbuka hijau. Namun, adanya kebutuhan ruang untuk menampung penduduk dan aktivitasnya, ruang hijau tersebut cenderung mengalami konversi guna lahan menjadi kawasan terbangun. Sebagian besar permukaannya, terutama di pusat kota, tertutup oleh jalan, bangunan dan lain-lain dengan karakter yang sangat kompleks dan berbeda dengan karakter ruang terbuka hijau. Hal-hal tersebut diperburuk oleh lemahnya penegakan hukum dan penyadaran masyarakat terhadap aspek penataan ruang kota sehingga menyebabkan munculnya permukiman kumuh di beberapa ruang kota dan menimbulkan masalah kemacetan akibat tingginya hambatan samping di ruas-ruas jalan tertentu.</p>
<p>Menurunnya kuantitas dan kualitas ruang terbuka publik yang ada di perkotaan, baik berupa ruang terbuka hijau (RTH) dan ruang terbuka non-hijau telah mengakibatkan menurunnya kualitas lingkungan perkotaan seperti seringnya terjadi banjir di perkotaan, tingginya polusi udara, dan meningkatnya kerawanan sosial (kriminalitas dan krisis sosial), menurunnya produktivitas masyarakat akibat stress karena terbatasnya ruang publik yang tersedia untuk interaksi sosial.Dalam hal ini, diperlukan pemikiran jauh ke depan, yang tidak hanya berorientasi pada pemenuhan tujuan berjangka pendek, dan perlu reorientasi visi pembangunan kota lebih mempertimbangkan faktor-faktor lingkungan dan keberlanjutan pembangunan. Strategi pemanfaatan ruang, baik untuk kawasan budidaya maupun kawasan lindung, perlu dilakukan secara kreatif, sehingga konversi lahan dari pertanian produktif ataupun dari kawasan hijau lainnya menjadi kawasan non hijau dan non produktif, dapat dikendalikan.</p>
<p><span id="more-36"></span></p>
<p><strong>Ruang Terbuka Hijau</strong></p>
<p>Secara umum ruang terbuka publik (<em>open spaces</em>) di perkotaan terdiri dari ruang terbuka hijau dan ruang terbuka non-hijau. Ruang Terbuka Hijau (RTH) perkotaan adalah bagian dari ruang-ruang terbuka (<em>open spaces</em>) suatu wilayah perkotaan yang diisi oleh tumbuhan, tanaman dan vegetasi (endemik maupun introduksi) guna mendukung manfaat ekologis, sosial-budaya dan arsitektural yang dapat memberikan manfaat ekonomi (kesejahteraan) bagi masyarakatnya. Ruang terbuka non-hijau dapat berupa ruang terbuka yang diperkeras (<em>paved</em>) maupun ruang terbuka biru (RTB) yang berupa permukaan sungai, danau, maupun areal-areal yang diperuntukkan sebagai genangan retensi.</p>
<p>Secara fisik RTH dapat dibedakan menjadi RTH alami yang berupa habitat liar alami, kawasan lindung dan taman-taman nasional, maupun RTH non-alami atau binaan yang seperti taman, lapangan olah raga, dan kebun bunga.</p>
<p>Dari segi fungsi RTH dapat berfungsi secara ekologis, sosial/budaya, arsitektural, dan ekonomi. Secara ekologis RTH dapat meningkatkan kualitas air tanah, mencegah banjir, mengurangi polusi udara, dan menurunkan temperatur kota. Bentuk-bentuk RTH perkotaan yang berfungsi ekologis antara lain seperti sabuk hijau kota, hutan kota, taman botani, sempadan sungai dll. Secara sosial-budaya keberadaan RTH dapat memberikan fungsi sebagai ruang interaksi sosial, sarana rekreasi, dan sebagai tetenger kota yang berbudaya. Bentuk RTH yang berfungsi sosial-budaya antara lain taman-taman kota, lapangan olah raga, kebun raya, TPU dsb.</p>
<p>Secara arsitektural RTH dapat meningkatkan nilai keindahan dan kenyamanan kota melalui keberadaan taman-taman kota, kebun-kebun bunga, dan jalur-jalur hijau di jalan-jalan kota. Sementara itu RTH juga dapat memiliki fungsi ekonomi, baik secara langsung seperti pengusahaan lahan-lahan kosong menjadi lahan pertanian/ perkebunan (<em>urban agriculture</em>) dan pengembangan sarana wisata hijau perkotaan yang dapat mendatangkan wisatawan.</p>
<p>Sementara itu secara struktur, bentuk dan susunan RTH dapat merupakan konfigurasi ekologis dan konfigurasi planologis. RTH dengan konfigurasi ekologis merupakan RTH yang berbasis bentang alam seperti, kawasan lindung, perbukitan, sempadan sungai, sempadan danau, pesisir dsb. Sedangkan RTH dengan konfigurasi planologis dapat berupa ruang-ruang yang dibentuk mengikuti pola struktur kota seperti RTH perumahan, RTH kelurahan, RTH kecamatan, RTH kota maupun taman-taman regional/ nasional.</p>
<p>Dari segi kepemilikan RTH dapat berupa RTH public yang dimiliki oleh umum dan terbuka bagi masyarakat luas, atau RTH privat (pribadi) yang berupa taman-taman yang berada pada lahan-lahan pribadi.</p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>Permukiman</strong></p>
<p>Menurut UU no. 4 tahun 1992, <em>Permukiman</em> adalah bagian dari lingkungan hidup di luar dari kawasan lindung, baik yang berupa kawasan perkotaan maupun pedesaan yang berfungsi sebagai lingkungan tempat tinggal atau lingkungan hunian dan tempat kegiatan yang mendukung perikehidupan dan penghidupan.</p>
<p>Satuan lingkungan permukiman adalah kawasan perumahan dalam berbagai bentuk dan ukuran dengan penataan tanah dan ruang, prasarana dan sarana lingkungan yang terstruktur.</p>
<p>Dalam UU No. 4 tahun 1992, disebutkan pula bahwa ciri–ciri utama dari permukiman adalah sebagai berikut:</p>
<ul>
<li>Mayoritas peruntukan adalah hunian</li>
<li>Fasilitas yang dikembangkan lebih pada pelayanan skala lingkungan (neighbourhood)</li>
<li>Luas kawasan yang dikembangkan lebih kecil dari 1000 Ha</li>
<li>Kebutuhan fasilitas perkotaan bagi penduduk kawasan hunian skala besar masih tergantung atau memanfaatkan fasilitas perkotaan yang berada di pusat kota</li>
</ul>
<p>Menurut Pemerintah No. 63 Tahun 2002 tentang Hutan Kota, hutan kota dibedakan atas beberapa tipe, salah satunya adalah tipe kawasan permukiman adalah hutan kota yang dibangun pada areal permukiman, yang berfungsi sebagai penghasil oksigen, penyerap karbondioksida, peresap air, penahan angin,  dan peredam kebisingan, berupa jenis komposisi tanaman pepohonan yang tinggi dikombinasikan dengan tanaman perdu dan rerumputan.</p>
<p><strong>Kajian Penurunan Kulaitas RTH</strong></p>
<p>Penurunan kualitas ruang terbuka public, terutama ruang terbuka hijau (RTH) pada 30 tahun terakhir sangat signifikan. Di kota-kota besar seperti Jakarta, Surabaya, Medan dan Bandung, luasan RTH telah berkurang dari 35% pada awal tahun 1970an menjadi kurang dari 10% pada saat ini. RTH yang ada sebagian bersar telah dikonversi menjadi infrastruktur perkotaan seperti jaringan jalan, gedung-gedung perkantoran, pusat perbelanjaan, dan kawasan permukiman baru. Jakarta dengan luas RTH sekitar 9 persen, saat memiliki rasio RTH per kapita sekitar 7,08 m<sup>2</sup>, relatif masih lebih rendah dari kota-kota lain di dunia.</p>
<p>Perencanaan tata ruang wilayah perkotaan berperan sangat penting dalam pembentukan ruang-ruang publik terutama RTH di perkotaan pada umunya dan di kawasan permukiman pada khususnya. Perencanaan tata ruang perm seyogyanya dimulai dengan mengidentifikasi kawasan-kawasan yang secara alami harus diselamatkan (kawasan lindung) untuk menjamin kelestarian lingkungan, dan kawasan-kawasan yang secara alami rentan terhadap bencana (<em>prone to natural hazards</em>) seperti gempa, longsor, banjir maupun bencana alam lainnya. Kawasan-kawasan inilah yang harus kita kembangkan sebagai ruang terbuka, baik hijau maupun non-hijau.</p>
<p>Issue yang berkaitan dengan ruang terbuka publik atau ruang terbuka hijau secara umum terkait dengan beberapa tantangan tipikal perkotaan, seperti menurunnya kualitas lingkungan hidup di kawasan kota dan di lingkungan permukiman warga, bencana banjir/ longsor dan perubahan perilaku sosial masyarakat yang cenderung kontra-produktif dan destruktif seperti kriminalitas dan vandalisme.</p>
<p>Dari aspek kondisi lingkungan hidup, rendahnya kualitas air tanah, tingginya polusi udara dan kebisingan di perkotaan, merupakan hal-hal yang secara langsung maupun tidak langsung terkait dengan keberadaan RTH secara ekologis. Di samping itu tingginya frekuensi bencana banjir dan tanah longsor di perkotaan dewasa ini juga diakibatkan karena terganggunya sistem tata air karena terbatasnya daerah resapan air dan tingginya volume air permukaan (<em>run-off</em>). Kondisi tersebut secara ekonomis juga dapat menurunkan tingkat  produktivitas, dan menurunkan tingkat kesehatan dan tingkat harapan hidup masyarakat.</p>
<p>Secara sosial, tingginya tingkat kriminalitas dan konflik horizontal di antara kelompok masyarakat perkotaan secara tidak langsung juga dapat disebabkan oleh kurangnya ruang-ruang kota yang dapat menyalurkan kebutuhan interaksi sosial untuk pelepas ketegangan yang dialami oleh masyarakat perkotaan. Rendahnya kualitas lingkungan perumahan dan penyediaan ruang terbuka publik, secara psikologis telah menyebabkan kondisi mental dan kualitas sosial masyarakat yang makin buruk dan tertekan.</p>
<p>Sementara itu secara teknis, issue yang berkaitan dengan penyelenggaraan RTH di perkotaan antara lain menyangkut terjadinya sub-optimalisasi penyediaan RTH baik secara kuantitatif maupun kualitatif, lemahnya kelembagaan dan SDM, kurangnya keterlibatan <em>stakeholder </em>dalam penyelenggaraan RTH, serta terbatasnya ruang/ lahan di kawasan permukiman yang dapat digunakan sebagai RTH.</p>
<p>Sub-optimalisasi ketersediaan RTH terkait dengan kenyataan masih kurang memadainya proporsi wilayah yang dialokasikan untuk ruang terbuka, maupun rendahnya rasio jumlah ruang terbuka per kapita yang tersedia. Sedangkan secara kelembagaan, masalah RTH juga terkait dengan belum adanya aturan perundangan yang memadai tentang RTH, serta pedoman teknis dalam penyelenggaraan RTH sehingga keberadaan RTH masih bersifat marjinal. Di samping itu, kualitas SDM yang tersedia juga harus ditingkatkan untuk dapat memelihara dan mengelola RTH secara lebih professional.</p>
<p>Penentuan luas ruang terbuka hijau ada yang mengacu pada jumlah penduduk dan kebutuhan ruang gerak per individu. Di Malaysia luasan hutan kota ditetapkan seluas 1,9 M<sup>2</sup>/penduduk; di Jepang ditetapkan sebesar 5,0 M<sup>2</sup>/penduduk; Dewan kota Lancashire Inggris menetapkan 11,5 M<sup>2</sup>/penduduk; Amerika menentukan luasan hutan yang lebih fantastis yaitu 60 M<sup>2</sup>/penduduk; sedangkan DKI Jakarta mengusulkan luasan taman untuk bermain dan berolah raga sebesar 1,5 M<sup>2</sup>/penduduk (Green for Life: 2004).</p>
<p>Perhitungan dengan issu kebutuhan oksigen tersebut mudah diterima secara logis sehingga akan diperoleh luasan ruang terbuka hijau sesuai dengan jumlah penghuninya. Semakin besar penduduk semakin luas RTH yang harus tersedia.</p>
<p>Berikut merupakan contoh kawasan hunian yang terletak di Kota Surabaya dengan penataan kawasan yang mengedepankan ruang-ruang terbuka hijau dan dipadukan dengan desain rumah modern tropical.</p>
<p>Sarana rekreasi dan relaksasi keluarga di tengah kawasan yang memudahkan setiap keluarga mempererat interaksi dengan sesama penghuni dan lingkungannya. Desain arsitektur modernnya memberikan kesan terbuka, menciptakan suasana yang menyatu antara kehijauan alam sekitar dengan aktifitas yang ada di dalam maupun luar ruang.</p>
<p>Kawasan terbuka hijau yang dirancang dengan konsep thematic landscape yang memadukan kehijauan dengan elemen-elemen alam seperti sand, pebble dan stone.</p>
<p><strong>Upaya Peningkatan Kualitas dan Kuantitas RTH</strong></p>
<p>Ruang terbuka hijau sebaiknya ditanami pepohonan yang mampu mengurangi polusi udara secara signifikan. Dari penelitian yang pernah dilakukan Pusat Penelitian dan Pengembangan Jalan, Departemen Pekerjaan Umum (kini Departemen Permukiman dan Prasarana Wilayah) di laboratoriumnya di Bandung, dan di berbagai tempat di Bogor, Bandung, dan Jakarta, diketahui ada lima tanaman pohon dan lima jenis tanaman perdu yang bisa mereduksi polusi udara.</p>
<p>Menurut penelitian di laboratorium, kelima jenis pohon itu bisa mengurangi polusi udara sekitar 47 &#8211; 69%. Mereka adalah pohon felicium (<em>Filicium decipiens</em>), mahoni (<em>Swietenia mahagoni</em>), kenari (<em>Canarium commune</em>), salam (<em>Syzygium polyanthum</em>), dan anting-anting (<em>Elaeocarpus grandiforus</em>). Sementara itu, jenis tanaman perdu yang baik untuk mengurangi polusi udara adalah puring (<em>Codiaeum variegiatum</em>), werkisiana, nusa indah (<em>Mussaenda sp</em>), soka (<em>Ixora javanica</em>), dan kembang sepatu (<em>Hibiscus rosa-sinensis</em>).</p>
<p>Upaya yang sama bisa pula dilakukan warga kota di halaman rumah masing-masing. Dengan penanaman pohon atau tanaman perdu tadi, selain udara menjadi lebih sejuk, polusi udara juga bisa dikurangi. Untuk menutupi kekurangan tempat menyimpan cadangan air tanah, setiap keluarga bisa melengkapi rumahnya, yang masih memiliki sedikit halaman, dengan sumur resapan. Dengan sumur resapan itu, air hujan yang turun tidak terbuang percuma, tetapi ditampung di tanah.</p>
<p>Sumur resapan merupakan sistem resapan buatan yang dapat menampung air hujan, baik dari permukaan tanah maupun dari air hujan yang disalurkan melalui atap bangunan. Bentuknya dapat berupa sumur, kolam dengan resapan, dan sejenisnya. Pembuatan sumur resapan ini sekaligus akan mengurangi debit banjir dan gena-ngan air di musim hujan.</p>
<p>Salah satu contoh upaya yang baik untuk mengembalikan  kualitas dan kuantitias RTH yang dapat diterapkan di lingkungan permukiman adalah beberapa kebijaksanaan perencanaan oleh pemerintah Kota Malang dalam menjaga keseimbangan ekologi lingkungan sebagai berikut:</p>
<ul>
<li>Pada kawasan terbangun kota, harus disediakan RTH yang cukup yaitu:</li>
<li>Untuk kawasan yang padat, minimum disediakan area 10 % dari luas total kawasan.</li>
<li>Untuk kawasan yang kepadatan bangunannya sedang harus disediakan ruang terbuka hijau minimum 15 % dari luas kawasan.</li>
<li>Untuk kawasan berkepadatan bangunan rendah harus disediakan ruang terbuka hijau minimum 20 % terhadap luas kawasan secara keseluruhan.
<ul>
<li>Pada kawasan terbangun kota, harus dikendalikan besaran angka Koefisien Dasar Bangunan (KDB) maupun Koefisien Lantai Bangunan (KLB) sesuai dengan sifat dan jenis penggunaan tanahnya. Secara umum pengendalian KDB dan KLB ini adalah mengikuti kaidah semakin besar kapling bangunan, nilai KDB dan KLB makin kecil, sedangkan semakin kecil ukuran kapling, maka nilai KDB dan KLB akan semakin besar.</li>
<li>Untuk mengendalikan kualitas air dan penyediaan air tanah, maka bagi setiap bangunan baik yang telah ataupun akan membangun disyaratkan untuk membuat sumur resapan air. Hal ini sangat penting artinya untuk menjaga agar kawasan terbangun kota, tinggi muka air tanah agar tidak makin menurun. Pada tingkat yang tinggi, kekurangan air permukaan ini akan mampu mempengaruhi kekuatan konstruksi bangunan.</li>
<li>Untuk meningkatkan daya resap air ke dalam tanah, maka perlu dikembangkan kawasan resapan air yang menampung buangan air hujan dari saluran drainase. Upaya lain yang perlu dilakukan adalah dengan membuat kolam resapan air pada setiap wilayah tangkapan air.</li>
<li>Untuk kawasan pemukiman sebaiknya jarak maksimum yang ditempuh menuju salah satu jalur angkutan umum adalah 250 meter.</li>
</ul>
</li>
</ul>
<p>Beberapa upaya yang harus dilakukan oleh Pemerintah antara lain adalah:</p>
<ul>
<li>Melakukan revisi UU 24/1992 tentang penataan ruang untuk dapat lebih mengakomodasikan kebutuhan pengembangan RTH;</li>
<li>Menyusun pedoman-pedoman pelaksanaan (NSPM) untuk peyelenggaraan dan pengelolaan RTH;</li>
<li>Menetapkan kebutuhan luas minimum RTH sesuai dengan karakteristik kota, dan indikator keberhasilan pengembangan RTH suatu kota;</li>
<li>Meningkatkan kampanye dan sosialisasi tentangnya pentingnya RTH melalui gerakan kota hijau (<em>green cities</em>);</li>
<li>Mengembangkan mekanisme insentif dan disinsentif yang dapat lebih meningkatkan peran swasta dan masyarakat melalui bentuk-bentuk kerjasama yang saling menguntungkan;</li>
<li>Mengembangkan proyek-proyek percontohan RTH untuk berbagai jenis dan bentuk yang ada di beberapa wilayah kota.</li>
</ul>
<p><strong>Kesimpulan</strong></p>
<p>Kecenderungan terjadinya penurunan kualitas ruang terbuka public di kawasan permukiman, terutama ruang terbuka hijau (RTH) pada 30 tahun terakhir sangat signifikan. RTH yang ada sebagian bersar telah dikonversi menjadi infrastruktur perkotaan seperti jaringan jalan, gedung-gedung perkantoran, pusat perbelanjaan, dan kawasan permukiman baru. Dalam upaya mewujudkan ruang yang nyaman, produktif dan berkelanjutan, maka sudah saatnya kita memberikan perhatian yang cukup terhadap keberadaan ruang terbuka public, khususnya RTH. Beberapa solusi yang dapat dilakukan antara lain membuat peraturan tentang standar penataan ruang berkaitan dengan penyediaan ruang terbuka hijau, serta upaya-upaya dalam skala kecil yang dapat dilakukan oleh masyarakat secara mandiri seperti menanam pohon atau tanaman perdu, selain udara menjadi lebih sejuk, polusi udara juga bisa dikurangi. Untuk menutupi kekurangan tempat menyimpan cadangan air tanah, setiap keluarga bisa melengkapi rumahnya, yang masih memiliki sedikit halaman, dengan sumur resapan.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/senthong.wordpress.com/36/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/senthong.wordpress.com/36/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/senthong.wordpress.com/36/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/senthong.wordpress.com/36/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/senthong.wordpress.com/36/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/senthong.wordpress.com/36/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/senthong.wordpress.com/36/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/senthong.wordpress.com/36/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/senthong.wordpress.com/36/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/senthong.wordpress.com/36/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/senthong.wordpress.com/36/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/senthong.wordpress.com/36/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/senthong.wordpress.com/36/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/senthong.wordpress.com/36/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=senthong.wordpress.com&amp;blog=9177900&amp;post=36&amp;subd=senthong&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://senthong.wordpress.com/2009/09/02/kuantitas-dan-kualitas-ruang-terbuka-hijau-rth-di-permukiman-kota/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/f7628bd0e393df78ca5aea3482042ac7?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">senthong</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://senthong.files.wordpress.com/2009/09/tk-07.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">tk-07</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>
