27
Agu
10

CATATAN RINGAN DARI SINGAPORE

Pemandangan reklamasi pantai secara besar-besaran tampak dari atas pesawat yang membawa kita memasuki negara Singapura dan ketika pertama mendarat di Changi International airport, suguhan perkembangan teknologi dalam rangcang bangun sudah terasa, berikutnya adalah perkembangan teknologi transportasi dengan MRT dan local link transportation di lingkungan Changi airport sendiri. Sepanjang menuju hotel suguhan berlanjut dengan bangunan-bangunan tinggi monumental karya arsitek-arsitek terkenal, S.O.M ( Changi MRT Station ), Moshe Shafdi ( Casinos @ Marina Bay and Sentosa ), Kenzo Tange ( UOB Plaza dan indoor stadium ), Paul Rudolph ( Concourse building ), I.M. Pei ( gateway building ), Ken Young ( National Library ), Norman Foster (Supreme Court dan Expo MRT ), rasanya tidak salah kalau Singapura diibaratkan ‘Jendela Dunia’ bagi perkembangan Arsitektur.

sumber:nus

Master Plan dan Pembangunan.

Emang hebat negara ini, dengan wilayah tak lebih besar dari kota Semarang dan tidak memiliki kekayaan alam yang dapat diekploitasi tetapi berhasil menjadi negara kecil, modern dan kaya. Mungkin posisi negara ini yang menjadi pusat jalur perdagangan dunia dan mereka berhasil memanfaatkan posisi tersebut untuk mendapatkan penambahan devisa negara. Keseriusan dan pandangan kedepan untuk memajukan negara ini dari pemerintahnya harus diakui dengan acungan jempol. Keterpurukan yang mendera akibat peperangan tahun 1950, memporak-porandakan negara ini, kemudian dengan cepat bangkit dengan membangun rumah susun-rumah susun untuk rakyatnya, membangun sarana transportasi, berupa pembangunan jalan dan jalur MRT dan menggagas masterplan kota Singapura kedepan di  tahun 1963. Keseriusan membangun negaranya ditunjukkan dengan belum ada 10 tahun, rancangan masterplan kota telah dirubah kembali ( 1971) dengan beberapa penyesuaian hasil review terhadap masterplan yang telah ada. Pada tahun 1991 dibuat kembali masterplan Singapura dengan thema ‘A Tropical City of Excellent” dan benar-benar diterapkan dan dibangun di tahun-tahun berikutnya dengan menghadirka arsitek-arsitek kelas dunia. Tahun 2001 direncanakan kembali masterplan Singapura dengan mengusung thema ‘Garden City in the Tropic”. Dengan thema ini Singapura dibangun, yang paling terlihat adalah pembangunan kawasan-kawasan baru ( bahkan banyak yang memanfaatkan reklamasi pantai dengan pasir dari pulau-pulau di Indonesia ) dan bangunan-bangunan high rise baru dengan thema yang sesuai, seperti pembangunan jalur-jalur MRT baru yang menghubungkan seluruh kawasan yang ada, Reflection building ( Daniel Libeskind) di Keppel Bay, Scott Tower ( OMA), EDITT Tower ( Ken Young ), pembangunan Bridging Ridges sepanjang 9 km yang menghubungkan beberapa kawasan, sebuah obyek wisata baru yang mengasikkan. Hebatnya lagi, Masterplan Singapura akan kembali direview dengan thema “City in a Garden” pada tahun 2020 dan  khabarnya WOHA sudah mengusulkan masterplan tahun 2050.

sumber:nusSumber Daya Manusia.

Untuk melaksanakan pembangunan di Singapura, banyak tenaga asing yang didatangkan dari semua penjuru dunia. Orang-orang yang mempunyai kompetensi tinggi akan dihargai dan diperhatikan, tentu saja berharap akan ada alih teknologi disana. Ketika nantinya tenaga kerja dalam negeri sudah dapat melaksanakannya, lambat laun ketergantungan dengan tenaga asing akan dikurangi, pada level bawah ketergantungan ini dapat disaksikan pada iring-iringan tenaga kerja yang melintas diperbatasan dengan negara lain pada saat pagi dan sore hari, tak ubahnya dengan banyaknya tenaga kerja yang memasuki kota Semarang dari arah Purwodadi dan Demak di pagi dan sore hari. Konon khabarnya jumlah masyarakat Singapura sendiri, secara ekonomis tidak mampu untuk memutarkan roda perekonomian negara ini, sehingga beberapa tahun kedepan Singapura mencoba mendongkrak jumlah penduduknya dengan berbegai cara.

sumber:nus

Arsitek Indonesia di Singapore.

Menjadi kebanggaan tersendiri ketika bertemu dengan rekan-rekan arsitek Indonesia yang telah berhasil bekerja di Singapore dan menembus dominasi arsitek asing ataupun local dengan menempati posisi-posisi strategis di kantornya masing-masing. Ikatan Arsitek Indonesia cabang Singapore juga telah terbentuk. Keberhasilan, kebanggaan dan gagasan disain yang telah mereka sumbangkan untuk turut mewarnai disain bangunan yang telah berdiri di Singapore menjadi bagian cerita yang amat berkesan dan cukup membanggakan. Yang menjadi catatan dan bahan renungan untuk kita ambil tindakan dan berbuat lebih adalah ‘KESETARAAN’, kemampuan dapat diadu tetapi kesetaraan ternyata tidak kita dapatkan. Ibaratnya arsitek kita ber’kasta sudra’ dalam tataran klasifikasi arsitek di Singapore, apa yang telah diberikan tidak sebanding dengan apa yang didapatkan jika ukurannya sesama arsitek professional local ataupun asing diluar Indonesia.

Menjadi tugas kita bersama, khususnya pengurus IAI di Pusat dan Daerah, kapan sertifikat professional IAI benar-benar setara dan diakui dalam tingkat dunia, minimal Asia atau lebih kecil dulu Asia Tenggara atau kita masih berkutat dengan kesetaraan arsitek nasional di pusat dan daerah. Ayo Semangat !!!

02
Mar
10

catatan saku dari korea (02)

”Wajah kota” itu, salah satunya bernama bandara

gerbang untuk memasuki suatu negara ataupun kota, apabila kita menggunakan transportasi udara adalah bangunan bandara, baik itu berskala internasional ataupun nasional. Image yang dihadirkan oleh bangunan ini ketika kita mendarat dan menyaksikan bangunan bandara ini dari atas pesawat, ternyata begitu kuat memberikan gambaran ataupun cerminan bagi pendatang tentang bagaimana image ibukota negara ataupun kota yang akan kita kunjungi. Bentuk masa bangunan, teknologi konstruksi yang dihadirkan, penggunaan material, pemilihan warna dan detail bangunan yang dihadirkan akan mempengaruhi pikiran kita tentang kondisi negara ataupun kota tersebut, dari aspek fisik, ekonomi, sosial budaya dan regulasi yang berada disana.

Apa yang dihadirkan oleh foto-foto dari bandara internasional incheon di seoul ini? Pertama tentunya kesan modern dan besarannya, hadir dengan kekiniannya yang ditunjukkan dari bentuk masa dan disainnya, konstruksinya, material pengisinya. Kedua kesan teratur dan sistimatis yang ditunjukkan dengan suasana interior bangunan dan penggunaan teknologi komputer untuk menunjang sistim informasi dan transportasinya. Ketiga kesan bersih dan keempat adalah kesan effektif dan effisien yang ditunjukkan dengan semua aktifitas dapat dilakukan dengan cepat dan link/hubungan zona ruang amat terjaga.

Demikian juga kesan yang dihadirkan oleh bandara gimhae di busan, dengan skala pelayanan yang lebih kecil dari incheon tetapi mempunyai kesamaaN kesan yang dihadirkan bagi penggunanya.

Kesan-kesan yang dihadirkan dari bandara ini ternyata tidak jauh menyimpang dengan gambaran kondisi ibukota negara ataupun kota dimana bandara-bandara itu berada.

Gambaran kondisi kota seoul dan Busan ternyata memang benar seperti yang tergambarkan dari bentuk dan disain bandaranya yaitu sebagai kota-kota yang modern, teratur dan terencana secara sistematis, bersih serta serba mengutamakan pelayanan yang efektif dan efisien.

Apabila kita mencermati kondisi bandara internasional kota kita ”Ahmad Yani” di Semarang, saya akan mendukung rencana pemindahan  letak bandara tersebut pada tempat yang menyebabkan kota semarang akan dapat berkembang menjadi kota metropolitan dengan gedung-gedung tinggi menjulang dan mengganti bentuk bangunan yang lebih cocok dengan karakter kota semarang kedepan, karena saya yakin bahwa ”wajah kota” itu, salah satunya bernama bandara.

24
Feb
10

catatan saku dari korea (01)

“pasar kobong”nya kota Busan

Beberapa waktu yang lalu, saya berkesempatan mengunjungi korea, dalam rangka tugas kedinasan untuk bertemu dengan architecture department, engineering faculty of Pukyong university dan rekan-rekan arsitek di Busan. Banyak catatan yang menarik tentang perkembangan arsitektur dan bangunan-bangunan disana. Permasalahan umum yang dirasakan mereka adalah maraknya arsitek asing, terutama dari amerika dan eropa yang berkarya di Korea, sebagaimana diceritakan oleh para arsitek disana. Mengamati karya arsitektur, pada sesi ini saya akan mengulas tentang suatu kawasan pasar ikan yang menjadi perhatian utama saya ( kota Busan berada di tepi pantai ), yang dalam benak saya kondisinya seperti “pasar kobong” di Semarang, “Jagalchi Market” mereka menyebutnya. Suatu kawasan dengan icon sebuah bangunan pipih beratap lengkung dan berarsitektur modern.


Gambar -01

Kawasan jagalchi market di tepi pelabuhan Busan


Gambar-02

Gedung utama jagalchi market yang menjadi icon kawasan

Sebagai kawasan pasar ikan, kesan jorok dan bau sama sekali tidak terlihat disana bahkan lalatpun tidak banyak ditemukan, semuanya serba teratur dan bersih. Aktifitas terpadu dilakukan pada kawasan itu, dari sejak kedatangan ikan, ditampung, dijajakan, dibersihkan perutannya, packing, pengawetan, pengiriman dan disajikan dalam bentuk hidangan dilakukan di kawasan itu. Dari kacamata seorang arsitek, saya menganggap suatu penyelesaian disain yang menarik dan berhasil dalam menyelesaikan traffic ikan, penjual/pedagang dan pengunjung yang memadati kawasan itu, dikaitkan dengan disain struktur dan penyelesaian jaringan mekanikal elektrikal yang prima.

Konsep disain ruang luar menggunakan jalur pedestrian yang cukup lebar sehingga memberikan keleluasaan gerak pengunjung yang dipisahkan dengan area parkir dan jalan lingkungan. Pola tata hijau kawasan diselesaikan dengan sederhana sesuai dengan kebutuhan. Lantai dasar dan ruang luar difungsikan sebagai area penjualan dan pemrosesan ikan ( pembersihan, pengawetan dan pengkemasan ), lantai diatasnya digunakan untuk aktifitas pengolahan, perkantoran dan perbankan sedangkan lantai dua teratas digunakan sebagai restorant yang menyajikan menu utama ikan-ikan segar yang didasarkan dilantai bawah.


Gambar-03

Area dasaran di luar gedung tampil bersih dan tidak bau.


Gambar-04

Los dasaran dalam gedung bersih dan nyaman dengan sistim pendingin udara


Gambar-05

Suasana restoran siap saji di dua lantai teratas gedung jagalchi yang eksklusif

Kunci utama keberhasilan kawasan dan bangunan didalamnya terbebas dari kesan jorok dan bau adalah penyediaan jaringan air bersih yang melimpah. Penggelontoran dan pembersihan lantai dilakukan setiap waktu dengan debit air yang cukup besar dan didukung dengan system drainase kawasan yang memadahi. Penyediaan air yang selalu mengalir untuk konsumsi kebutuhan air di aquarium-aquarium ikan segar di setiap kios-kios dasaran tersedia sepanjang waktu. Tersedianya instalasi pengolah limbah yang cukup canggih menyempurnakan konsep ini. Khusus dalam bangunan, tersedianya jaringan pengkondisian udara berhasil menghadirkan suhu yang nyaman untuk memilih dagangan dan melakukan transaksi .

Konstruksi bangunan menggunakan system beton bertulang yang dipadukan dengan rangka baja. Dinding eksterior bangunan ditutup dengan menggunakan cladding alumunium dan kaca sebagai fungsi curtainwall.Secara keseluruhan dari disain kawasan dan bangunan Jagalchi Market ini tidak ada yang aneh, dalam arti kita sebagai arsitek sudah paham dan sering menerapkannya pada disain kita. Dengan demikian mestinya kita juga mampu untuk memberikan yang terbaik dari ilmu yang kita miliki untuk mempercantik dan memberikan icon bagi kawasan dan kota kita.


27
Des
09

pemugaran lawang sewu harus tuntas

Ada perasaan emosional saat ikut menghadiri sosialisasi pemugaran gedung Lawang Sewu. Bagaimana tidak, sejak kecil bertempat tinggal ,bersekolah, berteman dan bermain dengan teman2 disekitar gedung ini. Ada rasa menyesakkan didada , ternyata  perasaan mencintai gedung ini.
Memperhatikan aktifitas dan perbaikan gedung Lawang Sewu satu tahun ini, serasa melihat seorang ‘nyonya tua’ yang sedang dirias, ada perasaan bahagia karena ada harapan untuk melihat seorang ’nyonya tua’ yang menyisakan kecantikannya, terawat, tidak lusuh dan dekil dimakan usia disamping itu juga ada perasaan iba, mengapa baru sekarang mendapat sedikit perhatian dari orang-orang terdekatnya, setelah sekian tahun dibiarkan terkapar dan menderita.
Melihat gedung Lawang Sewu memang seperti melihat seorang ‘nyonya tua’ yang cantik, semasa mudanya penuh potensi dan sarat pengalaman hidup di kota Semarang. Didirikan di komplek Tugu Muda, gedung megah bergaya art deco, yang digunakan Belanda sebagai kantor pusat kereta api  ( trem ), atau lebih dikenal dengan Nederlandsch Indische Spoorweg Maschaappij ( NIS ). Bangunan karya Arsitek Belanda Prof.Jacob F. Klinkhamer dan B.J Queendag, menurut catatan sejarah dibangun tahun 1903, kemudian diresmikan pada tanggal 1 juli 1907.
Dalam masa penjajahan dan upaya merebut kemerdekaan Indonesia, si ‘nyonya tua’ ini mempunyai andil dan sebagai saksi sejarah dari pertempuran-pertempuran yang pernah dilakukan dan yang terakhir adalah pertempuran lima hari di Semarang.
Dalam catatan resmi setelah Indonesia merdeka, Lawang Sewu dipakai sebagai kantor perkereta apian milik Indonesia, Perusahaan Jawatan Kereta Api (PJKA). Pada tahun 1949 Lawang Sewu digunakan sebagai kantor administrasi oleh KODAM IV DIPONEGORO. Pada tahun 1994 Lawang Sewu disewa oleh PT. Binangun Artha Perkasa (BAP) dan Perumka DAOP IV Semarang dalam perjanjian Memorandum of Understanding. Setelah itu Lawang Sewu kemudian ditempati oleh Departemen Perhubungan selama sekitar 2 tahun. Dan oleh karena Pajak Bumi dan Bangunan yang sangat besar, Lawang Sewu dijual ke pihak swasta, sebelum akhirnya dimiliki oleh PT. Kereta Api Indonesia (KAI) kembali.
Dalam catatan tidak resmi, ternyata ’nyonya tua ini juga merupakan ’ibu asuh’ dari masyarakat dan orang-orang yang mendapatkan nafkah dari keberadaannya, kaum papa dan terakhir anak-anak jalanan yang memanfaatkannya untuk tempat bernaung sementara.
Dengan demikian sudah sepantasnya jika upaya menumbuhkan aktifitas dan pemugaran gedung Lawang Sewu dilakukan oleh PT. KAI, didukung instansi yang pernah diasuhnya juga masyarakat Semarang, karena jika kita tengok sejarah diatas, ternyata si ’nyonya tua’ inilah yang melahirkan PT.KAI, jadi ’ibu” dari PT KAI dan ’ibu asuh’ yang berjasa bagi kota Semarang, KODAM IV Diponegoro, PT. BAP, departemen Perhubungan, sebagian masyarakat dan anak2 jalanan. Tidaklah Etis jika berani menelantarkan ibu dan ibu asuh yang telah berjasa besar mengasuh dan membesarkannya, apalagi jika berani menjual kepada pihak swasta yang akan memanfaatkan potensi dirinya.

Lanjutkan membaca ‘pemugaran lawang sewu harus tuntas’

22
Des
09

Kota Semarang Rentan Kebakaran

Menyimak kejadian kebakaran yang menimpa beberapa kota besar di tanah air, dengan korban jiwa dan materiil yang tentunya tidak sedikit membuat kita mesti berpikir dan berandai-andai jika kejadian itu menimpa kota kita. Walaupun kadang tak kita rasakan kejadiannya, ternyata frekuensi kejadian rata-rata 2-3 kali per hari dan penyebab yang paling besar adalah listrik, hubungan arus pendek.

Rasanya tak habis pikir ketika melihat data fasilitas dan peralatan yang dimiliki dan dikuasai dinas pemadam kebakaran kota Semarang dibandingkan dengan luas kota Semarang yang harus dilindungi,  belum lagi dengan jumlah bangunannya, kawasannya, daerah terbukanya, apa yha mampu memberikan perlindungan ataupun pengatasan kebakaran secara  maksimal?. kondisi serupa juga dialami kota-kota besar di tanah air, meskipun kota itu Jakarta.

Dari sisi Dinas Pemadam Kebakaran Kota.

Pos Pemadam Kebakaran, jumlahnya terbatas dan tidak terdistribusi secara merata pada skala kota dan kenyataannya jangkauan pelayananpun terbatas yang disesuaikan dengan waktu evakuasi ( dibawah 20 menit ). Jadi dengan kondisi jalan kota yang padat, gerakan mobil kebakaran terbatas akibatnya jarak tempuhnya terbatas. Kejadian kebakaran di area-area diluar jangkauan pelayanannya pasti mempunyai kondisi yang buruk ketika mobil pemadam kebakaran sampai di lokasi.

Fasilitas Pemadam kebakaran, ternyata juga kurang memenuhi persyaratan, berapa jumlah mobil pemadam kebakaran yang dilengkapi tangga? Sampai bangunan tingkat berapa mobil itu berfungsi? Untuk bangunan 12 lantai, semprotan airnya tentu akan susah menjangkaunya. Apakah keberadaan mobil pemadam tersebut juga sudah dipertimbangkan dengan dimensi jalan yang ada pada kota Semarang ? kalau susah memasuki jalan2 di perkampungan yha tentunya akan percuma.

Dari sisi Fasilitas Prasarana Kotanya.

Sumber air, terdapat beberapa sumber/sumur air di kota Semarang tetapi keberadaannya terpencar sehingga tetap akan menyulitkan proses pengambilannya apabila dibutuhkan. Sementara keberadaan hidrant pilar hanya pada perumahan elit, yang dilokasi lain kondisinya memprihatinkan bahkan tidak ada sama sekali.

Dari sisi kondisi bangunan di kota Semarang.

Bangunan-bangunan di kota semarang rata-rata tidak menyediakan biaya operation dan maintenance yang memadai, sehingga kondisi jaringan pemadam kebakaran yang ada padanya rata-rata dalam kondisi yang tak siap bekerja, banyak instalasi yang rusak dan aus ( jarang pemilik bangunan mereview kondisi jaringan mekanikal elektrikal yang ada pada bangunan mereka, sebagai catatan harusnya minimal 5 tahun sekali ), bahkan dibeberapa bangunan, tangga darurat kebanyakan didesain tidak tahan api dan bahkan dipergunakan untuk menyimpan arsip, sehingga akan menyulitkan dalam proses evakuasi. Tanda-tanda penyelamatan ketika terjadi kebakaran jarang kita lihat di bangunan umum apalagi di perkantoran juga desain bangunan yang tidak responsive dengan proses pemadam kebakarannya.

Dari sisi regulasi,

Dalam pengurusan IMB ( ijin mendirikan bangunan ) yang diminta adalah gambar siteplan, denah, tampak, potongan bangunan dan perhitungan konstruksi ( kalu lebih dari 1 lantai ), lebih kesubstansial untuk menghitung berapa biaya yang akan dikenakan. Kelihatannya tidak pernah dipertanyakan bagaimana sistim kelistrikan yang akan dirancangkan ( dari data penyebab utama adalah kelistrikan ). Ketika bangunan sudah berumur lebih dari 5 tahun, mestinya juga dilakukan review kembali ( post occupation evaluation ) terhadap perkembangan sistim kelistrikan ataupun jaringan mekanikal elektrikal lain. yang ada pada bangunan tersebut. Artinya tidak ada lembaga yang memeriksa, semua diserahkan pada pemilik bangunan.

Jadi yha memang benar, bahwa kota Semarang rentan terhadap kejadian kebakaran. Sebagai masukan pada para pemilik bangunan di Semarang janganlah terlalu berharap pada kesiapan petugas pemadam kebakaran kota ( apalagi untuk bangunan tinggi ), silakan persiapkan jaringan pemadam kebakaran di dalam bangunan anda semaksimal mungkin. Apabila benar2 kejadian kebakaran menimpa, harus yakin bahwa bangunan anda akan mampu memadamkan dengan kemampuan sendiri, apabila ada bantuan dari dinas kebakaran kota, yha…alhamdulillah.

10
Des
09

Kawasan Terminal Bis Terboyo sebagai Kawasan Adaptif terhadap Banjir dan Rob

Saat ini kondisi kawasan terminal bis Terboyo di wilayah Semarang Utara sedang merana. kondisi fisik kawasan,bangunan ataupun fasilitas pendukung terminal yang rusak dan tidak nyaman tentunya akan menyurutkan keinginan masyarakat pengguna untuk memanfaatkannya, apalagi ditambah dengan aksesibilitas menuju dan meninggalkan kawasan terminal yang padat dan banjir dimusim penghujan serta permasalahan rob yang cenderung terus meninggi, tentunya akan menurunkan kredibilitas kawasan. Kawasan terminal bis Terboyo saat ini memang merupakan bahan kajian yang menarik, bukan saja banyak aspek yang mendorong timbulnya permasalahan saat ini, juga dalam mencari solusi yang tepat terhadap permasalahan yang ada bukan merupakan pekerjaan gampang. Upaya pemerintah kota Semarang telah dilakukan diantaranya dengan membuat jalur alternatif, renovasi beberapa bagian kawasan dan bangunan terminal serta peninggian emplasemen dicoba untuk mengatasi permasalahan yang ada. Beberapa upaya cendikiawan yang berupa hasil kajian, penelitian dan rancangan yang berkaitan langsung dan tak langsung terhadap kawasan terminal terboyo juga telah dihasilkan Pada kenyataannya upaya-upaya tersebut belum membuahkan hasil . Pola pengatasan masalah yang bersifat tidak memberikan solusi yang tepat. merencanakan pengembangan kawasan terminal Terboyo sesegera mungkin amat ditunggu oleh masyarakat. Pemerintah kota Semarang sebaiknya bersungguh-sungguh agar tidak menimbulkan permasalahan baru dikemudian hari. Permasalahan banjir terutama dimusim penghujan dan kondisi rob yang semakin meninggi tentunya menjadi kajian. Perencanaan pembangunan dan pengembangan kawasan terminal bis Terboyo dengan melakukan perbaikan bangunan ataupun lingkungan pada site yang sama mungkin sesuatu yang sia-sia. Biaya yang diluncurkan tentunya tidak sedikit tetapi dalam beberapa tahun mendatang permasalahan saat ini akan berulang . Pemerintah kota Semarang harus berani berpikir jauh kedepan, mengadakan terobosan-terobosan dan bermimpi. Sebagai ide awal mengapa terminal Terboyo tidak dibangun diatas banjir dan rob, mengawang seperti bangunan panggung di Kalimantan dan bangunan tradisional di daerah pantai. Aksesibilitas dapat direncanakan dengan menghubungkan ring road Utara yang dihubungkan dengan jalan propinsi di daerah Genuk dengan menggunakan jalan layang, sehingga kendaraan berat tidak melalui jalan raya Kaligawe dan mengurangi kepadatannya. bangunan terminal dipadukan dengan bangunan-bangunan komersial dan hunian untuk menjawab kebutuhan masyarakat untuk menggantikan bangunan dan hunian di sekitar yang rentan terhadap banjir ataupun rob. Konsep pembangunannya dapat dilakukan secara bertahap sesuai dengan prioritas kebutuhan dan permintaan masyarakat pengguna. Perhitungan secara ekonomi perlu dilakukan, tetapi kepedulian pemerintah kota Semarang dalam memberikan pelayanan kepada masyarakatnya dalam menyediakan fasilitas-fasilitas kota dan keberanian menggagas kota yang adaptif terhadap bencana banjir dan rob amatlah tinggi nilainya.

20
Nov
09

menggagas kota baru Mijen

Latar Belakang

Sebagai layaknya kota-kota besar di Indonesia, Kota Semarang senantiasa memiliki kompleksitas permasalahan perkotaan yang semakin meningkat. Dari satu sisi dihadapkan pada dampak pertumbuhan dan perkembangan kota itu sendiri, baik dari aspek fisik, penataan ruang kota, ekonomi / perdagangan, kepadatan penduduk dan masih banyak aspek lainnya. Sementara dari sisi lain, sejalan dengan pemberian otonomi daerah kepada Daerah (Kota dan Kabupaten), selain dituntut untuk menanggung beban pembiayaan pemerintah daerah sendiri, juga dituntut untuk memiliki kemampuan dalam mengelola dan mensinergikan sumber daya / potensi yang dimilikinya, guna mengakselerasi pertumbuhan ekonomi dan pembangunan daerah. Kenyataan tersebut tentunya perlu disadari bahwa beban ekses otonomi daerah tersebut tidak hanya dipikul oleh Pemerintah Daerah saja, namun merupakan tanggung jawab bersama dari pelaku pembangunan (Stakeholders : Pemerintah Daerah, Swasta dan Masyarakat). Dalam konteks ini perlu dimaklumi bahwa Kota Semarang, sebagai salah satu kota raya (metropolitan) di Indonesia masih tertinggal dibandingkan dengan kota-kota metropolitan lainnya, baik dari aspek pengembangan dan penataan kota, pertumbuhan ekonomi / perdagangan, pemberdayaan masyarakat maupun sektor-sektor pembangunan lainnya, yang seharusnya berpotensi ekonomis bagi daerah. Dengan kondisi demikian, pelaku pembangunan daerah perlu secara bersama-sama berperan aktif dalam mengambil langkah-langkah dan terobosan untuk mengatasi kekurangan yang ada atau setidaknya berupaya mengurangi diri atas ketertinggalan dari kota-kota metropolitan lainnya. Dalam menyikapi hal tersebut diatas, maka perlu dilakukan kegiatan pembangunan yang memiliki daya dukung bagi berbagai sektor pembangunan, sehingga pada gilirannya nanti dapat dijadikan andalan daerah sekaligus mampu meningkatkan pertumbuhan dan perkembangan daerah itu sendiri. Berkaitan dengan hal tersebut, dalam kesempatan ini perlu ditawarkan sebuah konsep pemikiran bahwa salah satu kegiatan pembangunan yang memiliki peluang bisnis yang cukup besar bagi kota Semarang adalah penyediaan ruang (space) untuk suatu aktivitas tertentu yang memiliki nilai ekonomis tinggi, antara lain perencanaan kota satelit baru dengan menghadirkan pusat pertumbuhan baru kota Semarang yang potensial. Padahal sesungguhnya Kota Semarang memiliki potensi semua itu, hanya saja belum digali secara maksimal. Sebagaimana diketahui bahwa dewasa ini penyediaan ruang (space) untuk Pusat Pertumbuhan Baru merupakan kebutuhan penting bagi masyarakat modern, mengingat pemerataan pembangunan harus dapat dinikmati oleh semua lapisan masyarakat kota itu. Berangkat dari gagasan diatas, maka kegiatan pembangunan yang sejalan dengan pemikiran terebut adalah penyediaan lahan untuk menjadi Pusat Pertumbuhan Kota Baru di daerah yang memang tepat dan mempunyai aspek pendukung yang memadahi, dimana pembangunan tersebut selain dapat dijadikan sebagai ruang terbuka hijau, juga memiliki multiplier effect bagi berbagai sektor pembangunan, seperti : sektor olah raga, pariwisata, ketenagakerjaan dan perdagangan / ekonomi dan pendidikan. Kecamatan Mijen yang selama masuk dalam pemekaran kota Semarang serta merupakan simpul transportasi yang menghubungkan Gunungpati, Kendal dan kota Semarang belum tersentuh secara maksimal dalam pembangunan kiranya menjadi daerah potensial untuk dikembangkan menjadi sebuat Pusat Pertumbuhan Baru di kota Semarang. Keberadaan Bukit Semarang Baru ( BSB ) pada kenyataannya belum dapat mengangkat pembangunan kawasan sekitarnya . Untuk itulah perlu kiranya mulai dipikirkan rencana dan gagasan bagi pengembangan daerah tersebut yang didasarkan tidak hanya dari satu aspek tetapi dilakukan amatan secara terpadu dari aspek fisik, sosial, ekonomi dan regulasi yang ada.

Lanjutkan membaca ‘menggagas kota baru Mijen’




danyange

bagi saya senthong merupakan tempat favorit, karena apa saja bisa dilakukan disana....kadang ide pemikiran, gagasan, uneg-uneg, khayalan, impian , harapan dan rencana kedepan berawal dari sini......

Juli 2017
S S R K J S M
« Agu    
 12
3456789
10111213141516
17181920212223
24252627282930
31  

Blog Stats

  • 13,972 hits